Lamongan (beritajatim.com) – Persela Lamongan menghadapi krisis lini depan jelang laga krusial kontra PSS Sleman akibat buruknya catatan disiplin pemain dalam beberapa pertandingan terakhir. Pelatih Bima Sakti memberikan peringatan keras setelah timnya mengoleksi 11 kartu kuning dan 2 kartu merah hanya dalam empat laga beruntun.
Tingginya intensitas hukuman kartu tersebut membuat juru taktik berusia 50 tahun itu merasa khawatir terhadap stabilitas performa Laskar Joko Tingkir. Dampak negatif paling nyata adalah hilangnya kekuatan penuh tim dalam beberapa laga penting yang memaksa mereka bermain dengan sepuluh orang.
“Ini jadi catatan kita juga. Kita sudah beberapa kali main dengan 10 pemain,” ungkap Bima Sakti pada Rabu (25/2/2026).
Mantan pelatih Timnas Indonesia tersebut merinci bahwa tren buruk ini sudah terlihat sejak laga melawan Persiba Balikpapan dan PSIS Semarang. Puncaknya terjadi saat Persela bertandang ke markas Persiku Kudus yang menyisakan kelelahan fisik luar biasa bagi para pemain.
“Kita hitung mulai dari saat lawan Persiba, kemudian lawan PSIS semarang, dan terkahir lawan Persiku. Memang sangat berat kalau di suatu pertandingan, kita bermain hanya 10 pemain,” imbuh Bima.
Persela dipastikan kehilangan dua penyerang andalannya, Titan Agung dan Jhon Mena, dalam pertandingan melawan PSS Sleman akhir pekan ini. Titan Agung terpaksa absen karena sanksi kartu saat melawan PSIS, sementara Jhon Mena mendapatkan kartu merah langsung di laga kontra Persiku.
Absennya dua pilar tersebut memaksa Bima Sakti melakukan evaluasi mendalam, tidak hanya pada aspek teknis tetapi juga kedewasaan emosional pemain. Ia menilai ambisi besar pemain untuk menunjukkan kualitas seringkali justru berbuah tindakan di luar kontrol.
“Sebelumnya sudah saya sampaikan, bahwa kesulitan pemain ini adalah menjaga kontrolnya. Saya juga sudah menyampaikan ke pemain untuk lebih mengontrol emosi, karena sekarang pertandingan ada VAR,” tegas Bima.
Kehadiran teknologi Video Assistant Referee (VAR) di Liga Indonesia menuntut pemain untuk bermain lebih cerdas dan disiplin dalam mengambil keputusan. Setiap pelanggaran sekecil apa pun kini memiliki risiko besar yang dapat dipantau langsung oleh wasit melalui tayangan ulang digital.
“Mungkin mereka ingin menunjukkan kualitasnya, bermain dengan semangatnya, tapi malah di luar kontrol,” lanjutnya menjelaskan fenomena emosi di lapangan. Pelatih asal Balikpapan tersebut meminta anak asuhnya agar tidak mudah terprovokasi oleh faktor-faktor non-teknis di luar lapangan.
Bima menekankan agar pemain tetap fokus pada target kemenangan tim dan tidak terpengaruh oleh keputusan wasit maupun provokasi suporter lawan. Kedisiplinan menjadi kunci utama jika Persela ingin tetap kompetitif di papan atas klasemen musim ini.
“Saya juga sampaikan jangan terpengaruh dengan wasit, ejekan suporter tim lawan, maupun hal lainnya. Harus tetap fokus pada tujuan awal tim kita, jangan sampai kena kartu lagi,” tutup Bima Sakti. [fak/beq]






