Surabaya (beritajatim.com)- Perubahan pola tidur sering terjadi selama bulan Ramadan. Sebagian orang memilih beristirahat lebih lama di siang hari untuk menghemat energi saat berpuasa.
Namun, bagaimana pandangan Islam terhadap kebiasaan tidur seharian, dan apa dampaknya bagi kesehatan tubuh?
1. Keabsahan Puasa
Tidur sepanjang hari tidak membatalkan puasa karena tidur bukan termasuk hal
yang membatalkan secara syariat.
Penjelasan ini sejalan dengan pendapat Imam Al- Nawawi yang menyatakan puasa seseorang tetap sah meskipun ia tidur hamper sepanjang hari.
2. Hukum Terkait Kewajiban Salat
Status hukum tidur seharian berkaitan erat dengan pelaksanaan salat fardu. Jika seseorang tertidur hingga melewatkan waktu salat wajib, hal tersebut dinilai sebagai kelalaian besar dan termasuk perbuatan dosa, meskipun puasanya tetap sah.
Kondisi ini membuat pahala dan tujuan ibadah puasa tidak tercapai secara optimal. Sebaliknya, jika seseorang tetap bangun untuk menunaikan salat tepat waktu lalu kembali tidur, ia tidak berdosa.
Namun, kebiasaan tersebut dipandang makruh karena menunjukkan sikap berlebihan dalam beristirahat dan tidak sejalan dengan semangat mengisi waktu Ramadan dengan aktivitas yang bermanfaat.
3. Etika Berpuasa dan Peluang Ibadah
Para ulama menekankan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus,tetapi juga melatih pengendalian diri. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa mengurangi tidur di siang hari membantu seseorang benar-benar merasakan kondisi berpuasa sehingga lebih mudah menjaga kejernihan hati. Tidur seharian juga membuat seseorang kehilangan kesempatan memperbanyak ibadah seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa yang pahalanya dilipatgandakan di bulan
Ramadhan.
4. Dampak bagi Kesehatan
Dari sisi kesehatan, tidur terlalu lama di siang hari dapat mengganggu ritme biologis tubuh, memicu rasa lemas, dan menurunkan kebugaran. Pola ini juga berpotensi membuat tubuh terasa semakin lesu saat beraktivitas maupun beribadah karena keseimbangan waktu istirahat dan aktivitas tidak terjaga.
5. Memahami Ungkapan “Tidurnya Orang Berpuasa adalah Ibadah”
Tidur dapat bernilai ibadah apabila diniatkan untuk menjaga stamina agar mampu menjalankan kewajiban dan aktivitas dengan baik. Namun, jika tidur dilakukan semata untuk menghindari rasa lapar atau karena malas, nilai ibadah tersebut tidak
otomatis diperoleh.
6. Saran Pola Tidur Selama Ramadan
Untuk menjaga keseimbangan ibadah dan kesehatan selama Ramadan, para ahli menyarankan pola tidur bifasik, yaitu membagi waktu tidur menjadi dua periode antara malam dan siang. Selain itu, tidur singkat sekitar 20–30 menit pada siang hari atau power nap dapat membantu memulihkan energi tanpa mengganggu produktivitas sepanjang hari. [Meychel Salsabyla






