Ada kredo yang disukai suporter: ‘tidak ada pemain yang lebih besar daripada klub sepak bola’. Namun seringkali kredo itu bukanlah aksioma saat pertaandingan berlangsung.
Sepak bola memang sebuah permainan tim yang dimainkan sebelas orang. Namun ketergantungan terhadap seorang pemain dalam sebuah tim sepak bola bukanlah hal aneh.
Saat Rodri absen dalam waktu lama, Manchester City mendadak tak lagi perkasa. Mereka memang masih mendominasi pertandingan. Namun tidak senantiasa berujung kemenangan.
Rodri tentu tidak bisa sendirian memenangi pertandingan. Namun di lapangan hijau, dia yang mendikte tempo dan mengorkestrasi permainan untuk membantu sepuluh pemain lainnya menang.
Di Persebaya, Bruno Moreira adalah pemain kunci. Tak ada yang bisa membantahnya. Dia memainkan 18 dari 20 pertandingan Persebaya musim ini dan telah mencetak tujuh gol dan empat assist. Dengan kata lain, gol dan assistnya menyumbangkan 35,48 persen dari gol yang dicetak Persebaya hingga pekan ke-20.
Pentingnya posisi Moreira hanya bisa disandingkan dengan Francisco Rivera, pemain impor asal Meksiko. Rivera dengan jumlah pertandingan yang lebih sedikit (16 pertandingan), telah mencetak lima gol dan enam assist. Persentase sumbangsihnya terhadap gol Persebaya sama dengan Moreira.
Jika semua gol dan assist Bruno Moreira dihilangkan, maka koleksi 12 poin Persebaya anjlok menjadi tiga poin. Posisi di klasemen pun ikut ambrol dari posisi kelima dengan 35 poin menjadi posisi 10-12 dengan 26 angka.
Sepenting itulah Bruno Moreira bagi Persebaya. Celotehan penonton bahwa pemain asal Brasil itu terlalu banyak menggiring bola dan egois bisa dikesampingkan.
Maka saat Moreira absen dalam pertandingan tandang melawan Bali United di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Sabtu (7/2/2026), tugas Tavares adalah membuktikan kebenaran kredo ‘tidak ada pemain yang lebih besar daripada klub’. Tanpa Bruno Moreira, pesta harus tetap berjalan.
Dan Tavares membuktikan itu di hadapan 12.163 orang penonton. Posisi Moreira di sayap kiri diisi pemain berusia 18 tahun kelahiran Surabaya, Dimas Wicaksono. Sementara posisi nomor 9 dipercayakan kepada Mihailo Perovic yang selama ini diragukan ketajamannya oleh Bonek.
Dan kita kembali melihat ‘sentuhan Midas’ Tavares di Bali. Membiarkan Bali United menguasai 71 persen permainan, Persebaya membuat frustrasi dan menghukum lawan dengan skema serangan balik cepat.
Tavares membiarkan Bali berputar-putar dengan bola. Namun blok pertahanan yang dibangun Persebaya membuat mereka hanya bisa tiga kali menembakkan bola tepat sasaran ke gawang Ernando Ari dari 16 percobaan.
Sementara Persebaya bermain lebih efektif dan ‘direct’. Dari 16 percobaan tembakan, enam tembakan tepat sasaran. Gol yang dicetak Mihailo Perovic pada menit 26, Alfan Suaib pada menit 69, dan Risto Mitrevski pada menit 73 sekali lagi menunjukkan serangan balik adalah ‘pertahanan terbaik’. Bukan sekadar mendominasi dan menyerang pertahanan lawan.
Namun kemenangan 3-1 atas Balu United bukan hanya pembuktian bahwa pesta bisa digelar tanpa Bruno Moreira. Ini juga pembuktian bagi dua pemain muda Dimas Wicaksono dan Alfan Suaib. Alfan, pemain kelahiran Ternate berusia 21 tahun, yang mencetak gol perdananya untuk Persebaya. Dimas pun bermain tak buruk sebelum digantikan Alfan.
Pertandingan berikutnya menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC, di Gelora Bung Tomo, Sabtu (14/2/2026). Tiga belas pertandingan berturut-turut sudah dilakoni Persebaya tanpa kekalahan. Tavares sudah membuktikan bahwa ‘tak ada pemain yang lebih besar daripada Persebaya’. Pembuktian berikutnya tentu kemenangan di hadapan publik sendiri. [wir]






