Blitar (beritajatim.com) – Tabir gelap yang menyelimuti raibnya artefak di Situs Mejo Miring, Desa Siraman, Kecamatan Kesamben, akhirnya tersingkap. Bukan motif ekonomi atau jaringan pasar gelap internasional, penjarahan benda purbakala era Majapahit ini ternyata didasari oleh keyakinan mistis yakni ambisi mendirikan kerajaan baru di tanah Blitar.
Setelah penyelidikan maraton oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Balai Pelestarian Kebudayaan (BPKW) Wilayah XI, misteri ini bermuara pada satu nama yaitu Mbah Saimun. Sosok sepuh yang kini terserang stroke tersebut diduga kuat sebagai otak di balik raibnya puluhan artefak dari situs asalnya ke kediaman pribadi dan rumah para pengikutnya.
Fakta paling mencengangkan ditemukan saat petugas menggeledah kediaman Mbah Saimun di Desa Bumirejo. Arca Putri, benda paling berharga dari Situs Mejo Miring, ditemukan tersimpan rapat di dalam kamar pribadinya.
Alih-alih merasa bersalah, Mbah Saimun justru memberikan pembelaan yang melampaui logika sehat. Ia menolak mengembalikan artefak tersebut karena mengklaim telah menikahi arca batu tersebut secara spiritual. Bagi Saimun dan tiga pengikutnya yakni ST, JW, dan NS benda-benda purbakala tersebut adalah instrumen wajib yang harus dikumpulkan demi tegaknya sebuah tatanan kerajaan baru.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Blitar, Eko Susanto, menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi klaim mistis dalam hukum pelestarian cagar budaya. Ia memastikan seluruh bongkahan situs yang dijarah wajib kembali ke tempat asalnya.
“Intinya sudah selesai dan terus kita monitor dan kita juga diberi mandat oleh balai koservasi untuk selalu koordinasi kalau terjadi tindakan serupa,” tegas Eko Susanto.
Proses pengembalian ini dipastikan tidak akan mudah. Tim ahli akan diterjunkan untuk mengawasi pemasangan kembali artefak agar tidak merusak struktur aslinya. Koordinasi ketat antara Pemkab Blitar dan pemangku wilayah dilakukan untuk memastikan setiap jengkal sejarah yang hilang dapat terpasang kembali dengan presisi.
Meski bukti-bukti sudah di depan mata, petugas kini menghadapi tembok besar bernama dilema kemanusiaan. Kondisi fisik Mbah Saimun yang menderita stroke membuat proses evakuasi benda sejarah sempat terhambat oleh penolakan keras dari keluarga dan pengikut loyalnya.
“Sempat ada penolakan karena kondisi yang bersangkutan sedang sakit. Ini menjadi kendala di lapangan,” ujar Kepala Desa Siraman, Budi Arif Rohman.
Namun, negara tidak boleh kalah oleh klaim mistis. Penjarahan Situs Mejo Miring adalah pengkhianatan terhadap warisan leluhur. [owi/beq]






