Malang (beritajatim.com) – Kawasan Jalan Soekarno-Hatta (Suhat), Kota Malang, segera mendapatkan kembali keasriannya. Merespons dampak penebangan pohon akibat proyek penataan drainase dalam satu tahun terakhir, Politeknik Negeri Malang (Polinema) berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang menggelar aksi penanaman ratusan pohon pada Rabu (11/2/2026).
Ketua Senat Polinema periode 2026–2030, Dr. Muhamad Fajar Subkhan, S.T., M.T., yang hadir mewakili Direktur Polinema, menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Direktur yang sedang bertugas di Jakarta terkait agenda penerimaan mahasiswa baru. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata kepedulian institusi terhadap pemulihan lingkungan.
“Kegiatan hari ini sangat sejalan dengan visi Politeknik Negeri Malang yang telah mencanangkan diri sebagai kampus hijau. Momentumnya begitu pas, karena kita tahu di Jalan Soekarno-Hatta ini baru saja ada penataan drainase yang mengharuskan pengurangan beberapa pohon. Oleh karena itu, Polinema berinisiatif untuk menanam kembali agar lingkungan sekitar kampus dan Suhat kembali rindang,” ujar Dr. Fajar.
Dalam aksi peduli lingkungan ini, Polinema menyumbangkan kurang lebih 200 pohon. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen Polinema dalam mempertahankan dan meningkatkan peringkat mereka di UI GreenMetric, sebuah standar penilaian kampus hijau bertaraf internasional.
Saat ini, Ruang Terbuka Hijau (RTH) di lingkungan kampus Polinema telah mencapai sekitar 30 persen. Ke depan, program penghijauan tidak hanya difokuskan di kampus utama Malang. Mengingat keterbatasan lahan yang ada, Polinema juga mulai mengarahkan fokus penghijauannya ke kampus Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) yang berada di Kediri, Lumajang, dan Pamekasan.
“Kami terus berkomitmen memenuhi kriteria UI GreenMetric secara berkelanjutan, baik dari sisi keberadaan tanaman, pengelolaan ruang, hingga pengaturan lalu lintas di dalam kampus,” tambahnya.

Langkah Polinema ini mendapat apresiasi penuh dari Pemerintah Kota Malang. Plt Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, menyatakan rasa terima kasihnya atas sinergi yang terbangun.
Raymond menjelaskan bahwa sesuai dengan aturan yang berlaku di DLH, pihaknya memang menargetkan pengembalian fungsi ekologi di kawasan tersebut dengan menanam sekitar 290 pohon yang tersebar di sepanjang Jalan Suhat. Ia juga memberikan pembaruan terkait progres proyek di kawasan padat lalu lintas tersebut.
“Untuk drainasenya sebagai penanggulangan banjir memang sudah selesai dikerjakan. Namun, tahun ini akan dilanjutkan dengan pembangunan jalur pedestrian (trotoar). Nanti lantainya akan diperbaiki dan dilengkapi fasilitas seperti kursi serta tempat sampah,” jelas Raymond.
Menariknya, Raymond menegaskan bahwa setelah penataan ini rampung, kawasan pedestrian Suhat akan difungsikan penuh untuk kenyamanan pejalan kaki. “Konsepnya mengikuti desain dari Pemerintah Kota Malang. Yang pasti, area pedestrian tersebut nantinya tidak lagi digunakan untuk tempat parkir kendaraan,” tegasnya.
Terkait jenis pohon yang ditanam, DLH dan masyarakat sepakat memilih pohon Tabebuya. Sebanyak 15 pohon telah ditanam di area mulai dari Jembatan Suhat hingga depan kampus Polinema, sementara sekitar 25 pohon lainnya ditanam dari area ruko hingga RSUD.
Pemilihan Tabebuya bukan tanpa alasan. Selain karena daun dan bunganya yang sangat estetik, masyarakat sekitar juga berharap ada keseragaman jenis pohon yang menjadi ikon kawasan tersebut. Penanaman pohon baru ini juga sekaligus mengganti pohon-pohon lama yang secara ekologis kurang tepat, seperti pohon karet yang dinilai tidak pas jika dipertahankan di pinggiran aliran sungai atau drainase.
“Penanaman pohon ini merupakan harapan dari Bapak Wali Kota Malang agar kondisi lingkungan di Suhat tidak gersang pasca-pembangunan drainase. Kami semua berharap pohon-pohon ini bisa tumbuh besar dan secara signifikan memperbaiki kualitas udara di Kota Malang,” tutup Raymond. (dan/but)






