Surabaya (beritajatim.com) – Prima Retno Wikandari resmi menyandang gelar guru besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Selasa (10/2/2026). Pakar pangan fungsional ini membuktikan, keterbatasan fisik bukan penghalang mencapai puncak karier akademik tertinggi.
Sejak usia tiga tahun, Prima bergelut dengan dampak polio. Namun, kemandirian yang ditanamkan keluarga di Jember membawanya meraih gelar doktor predikat cumlaude di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2011.
Kini, dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ini fokus pada riset mikroba indigenous. Ia mengeksplorasi potensi bahan pangan lokal melalui teknologi fermentasi untuk memperkuat kesehatan dan kemandirian pangan nasional.
“Momen pengukuhan ini bukan puncak, melainkan amanah untuk berkontribusi lebih luas kepada masyarakat,” ujar Prima, ditulis Rabu (11/2/2026).
Di Unesa, ia konsisten meneliti Lactobacillus plantarum B1765 sebagai komponen utama pangan fungsional berbasis sumber daya lokal.
Risetnya menghasilkan 27 produk probiotik dan empat paten, termasuk kopi probiotik. Inovasi ini untuk menekan angka penyakit degeneratif seperti diabetes melitus yang terus meningkat signifikan di Indonesia dalam satu dekade.
Temuan terbarunya adalah pikel bawang putih tunggal hasil fermentasi. Uji in vivo pada tikus menunjukkan hasil signifikan dalam menurunkan kadar glukosa darah sekaligus memperbaiki sel beta pankreas yang rusak.
Keunggulan inovasi ini terletak pada kemampuan regenerasi sel pankreas. Menurut Prima, mayoritas obat diabetes saat ini belum mampu memperbaiki organ tersebut, sementara aktivitas antioksidan pangan fermentasi menunjukkan potensi besar.
Prima juga melirik potensi umbi-umbian lokal seperti gembili dan talas. Gabungan probiotik dan prebiotik dari umbi tersebut menciptakan senyawa short chain fatty acid yang menjadi kunci utama pencegahan diabetes.
Sementara itu, Rektor Unesa Nurhasan, menyebut Prima sebagai sumber daya manusia hebat yang memiliki kecerdasan luar biasa. Pihaknya pun memberikan dana khusus untuk mempercepat hilirisasi riset pangan lokal antidiabetes tersebut.
“Beliau sebelumnya salah satu subdit di penjaminan mutu. Kemudian 3 tahun terakhir izin ke saya untuk resign agar bisa konsentrasi menyiapkan guru besarnya. Sehingga kami memfasilitasi itu,” jelasnya.
Di samping itu, komitmen Unesa terhadap inklusivitas tecermin dari penyediaan fasilitas ramah disabilitas dan beasiswa. Prima sendiri kini menargetkan pendirian Pusat Kajian Pangan Fungsional Anti-Diabetes untuk memperkuat sinergi lintas disiplin ilmu. [ipl/beq]






