Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Nur Ahmad Justine Ivana, menciptakan alat pemisah dan pengering gabah otomatis berbasis mikrokontroler.
Teknologi ini dirancang untuk mengatasi ketergantungan petani pada cuaca saat proses pascapanen.
Justin mengembangkan teknologi ini untuk membantu petani menjaga kualitas hasil panen, khususnya saat musim hujan. Inovasi ini untuk menekan risiko kerugian petani akibat kadar air yang tidak stabil pada padi.
“Saya ingin skripsi ini bisa membantu petani, terutama saat musim hujan. Dengan alat ini, gabah langsung dikeringkan sehingga kualitas terjaga dan petani tidak merugi,” kata Justin, Senin (9/2/2026).
Alat tersebut menggunakan sensor suhu dan kelembapan untuk memastikan gabah kering secara merata dan efisien. Sistem juga dilengkapi blower untuk memisahkan gabah dari kotoran berdasarkan perbedaan massa jenis secara cepat.
“Heater dipakai sebagai sumber panas dalam sistem pengeringan gabah yang dirancang. Sistem itu bekerja real-time untuk menjaga kestabilan suhu dan mempercepat proses pengeringan gabah, sehingga menghasilkan tingkat kekeringan yang lebih merata dibanding metode tradisional,” ungkapnya.
Justin sendiri berhasil menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK 3,5 meski bekerja sebagai Building Management. Karya ini diharapkan mendukung modernisasi pertanian dan meningkatkan ketahanan pangan nasional. [ipl/kun]






