Blitar (beritajatim.com) – Presiden Prabowo telah meluncurkan program hilirisasi ayam. Langkah strategis ini ditandai dengan Groundbreaking Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi Fase I di enam titik oleh Danantara pada Jumat (6/2/2026).
Proyek hilirisasi ayam ini diproyeksikan dapat menambah produksi 1,5 juta ton daging serta 1 juta ton per tahun. Pasokan protein dari telur dan daging ayam tersebut diharapkan menopang kebutuhan sekitar 82,9 juta penerima manfaat makan bergizi gratis (MBG) serta berkontribusi menurunkan angka stunting.
Namun di tengah proyek tersebut ada kekhawatiran yang dirasakan oleh mayoritas peternak rakyat di Blitar. Para peternak ayam petelur ini khawatir, proyek hilirisasi akan membuat peternak rakyat gulung tikar.
“Program hilirisasi ini sebenarnya membuat resah peternakan rakyat di Blitar,” ungkap Suroto, peternak asal Kademangan Blitar yang pernah diundang ke istana negara oleh Presiden Jokowi pada Senin (9/2/2026).
Kekhawatiran peternak rakyat ini bukan tanpa sebab. Pasalnya dengan adanya hilirisasi, maka produksi telur akan meningkat. Peningkatan itu pun tentu akan membuat serapan telur ayam dari Blitar berkurang drastis. Imbasnya harga telur ayam akan jatuh bebas.
Data di lapangan menyebut bahwa 80 persen telur ayam produksi peternak rakyat Blitar dijual ke luar Jawa Timur. Sedangnya 20 persen produksi telur ayam di Blitar dijual di Regional Jawa Timur.
Dengan adanya hilirisasi, peternak ayam rakyat khawatir pasarnya akan terebut. Kondisi tentu cukup dikhawatirkan, karena bagi peternak rakyat, telur adalah sumber kehidupan.
“Ini mungkin bagi daerah lain ini tidak akan sejalan dengan kita, karena dengan adanya hilirisasi maka masa depan peternak ayam di Blitar semakin tergusur, soalnya apa wilayah-wilayah lain yang disebutkan pemerintah sebagai daerah zona merah telur budidaya sendiri nanti telur dari Blitar ini mau dikemanakan,” ucap Suroto dengan nada getir.
Blitar sendiri memang masih menjadi daerah penopang telur nasional sebesar 30 persen lebih. Dengan data populasi ayam petelur yang mencapai 17 juta ekor.
Produksi telurnya pun mencapai 850 ribu ton per hari. Para peternak khawatir dengan adanya hilirisasi, puluhan ribu ton telur asal Blitar itu akan sulit dijual, tentu imbasnya harga akan jatuh.
“Ini akan menjadi ancaman bagi peternak kecil, kalau seperti itu peternak akan bangkrut,” imbuhnya.
Selain khawatir soal serapan produksi telur, para peternak juga gelisah perihal stok jagung imbas dari proyek hilirisasi. Menurut peternak dengan adanya hilirisasi maka stok jagung untuk peternak di Blitar juga akan berkurang.
Imbasnya harga jagung yang merupakan pakan dari ayam petelur akan melonjak. Dengan kondisi itu para peternak tak akan lagi mampu untuk membeli jagung untuk pakan ayamnya.
“Kalau sudah ada hilirisasi itu nanti jagung-jagung yang diluar pulau itu kan tetap disitu akhirnya kita akan kekurangan imbasnya apa nanti harga pakan akan mahal lagi,” pungkasnya. (owi/but)






