Kediri (beritajatim.com) – Perum Jasa Tirta (PJT) I mendukung pelaksanaan Zero Waste Academy (ZWA) yang diselenggarakan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) sebagai upaya strategis memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya guna melindungi Sungai Brantas dari pencemaran. Kegiatan tersebut digelar di Kota Kediri dan diikuti peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Direktur Utama PJT I Fahmi Hidayat menyampaikan, keterlibatan PJT I dalam Zero Waste Academy merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan kualitas sumber daya air.
“Perlindungan sungai tidak dapat hanya mengandalkan upaya di badan air, tetapi harus dimulai dari pengelolaan sampah di sumbernya,” kata Fahmi.
Melalui dukungan terhadap Zero Waste Academy, Fahmi menegaskan pentingnya penguatan kapasitas masyarakat dan para pemangku kepentingan dalam mengelola sampah secara bertanggung jawab.
“Muaranya yang diharapkan bersama adalah beban pencemaran ke sungai berupa sampah dapat ditekan secara signifikan,” tegasnya.
Dukungan PJT I juga diwujudkan melalui keterlibatan generasi muda PJT I, Aulia Agusta Alamsjah, yang menjadi narasumber dalam rangkaian workshop Zero Waste Academy selama empat hari di Kota Kediri.
Dalam paparannya, Aulia membagikan pengalaman lapangan PJT I dalam pengendalian sampah di badan sungai, termasuk pemasangan trash barrier di titik-titik strategis untuk mencegah sampah masuk ke infrastruktur penting sumber daya air.

Ia menyampaikan bahwa selama ini PJT I menangani sampah yang terlanjur masuk ke sungai melalui kegiatan pengumpulan rutin, kemudian diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Salah satu contoh nyata terdapat di Waduk Sengguruh di Kabupaten Malang, di mana volume sampah yang ditangani mencapai sekitar 35.000 meter kubik per tahun,” ungkapnya.
Lebih lanjut dipaparkan, sekitar 57,1 persen limbah padat di wilayah Sungai Brantas berasal dari aktivitas rumah tangga. Sementara itu, cakupan layanan persampahan di wilayah pedesaan masih terbatas, yakni sekitar 15 persen.
Kondisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap kebocoran sampah ke sungai dan meningkatkan risiko pencemaran, termasuk temuan mikroplastik pada ikan di Sungai Brantas.
“Praktik ini menjadi pembelajaran penting bagi para peserta dari berbagai daerah di Pulau Jawa mengenai tantangan dan penanganan sampah di badan sungai,” tuturnya.
Zero Waste Academy diikuti lebih dari 50 peserta yang berasal dari lebih dari 12 kota dan kabupaten di Pulau Jawa. Peserta melibatkan unsur pemerintah dari Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah desa dan kelurahan, akademisi, serta organisasi lingkungan hidup. [nm]






