Surabaya (beritajatim.com) – Eko Setiawan meraih gelar Doktor Ilmu Sosial dari FISIP Universitas Airlangga (Unair) setelah menguji disertasi tentang kasus Bjorka. Ia menilai pelabelan hoaks oleh negara justru memicu resistensi digital di masyarakat hiper-informasi.
Eko memaparkan disertasi berjudul “Formasi Hoaks dan Gerakan Counter-Information sebagai Counterculture dalam Masyarakat Hiperinformasi” dalam sidang ujian terbuka, Rabu (4/2/2025). Sidang digelar di Ruang Adi Sukadana, Lantai 2 FISIP Unair.
Penelitian itu menyoroti bagaimana informasi Bjorka diproduksi, diperdebatkan, dan beredar luas di media sosial. Eko menilai ruang digital telah menjadi arena pertarungan makna yang melibatkan publik, negara, serta aktor-aktor informasi lainnya.
“Hoaks dan counter-information hadir sebagai konstruksi sosial di arena pertarungan makna dan legitimasi kekuasaan, bukan sekadar dikotomi benar-salah secara teknis,” kata Eko.
Eko menyebut masyarakat saat ini memasuki fase hiper-informasi. Pada situasi itu, kebenaran tidak selalu ditentukan verifikasi faktual, tetapi oleh intensitas sirkulasi informasi dan penerimaan emosional publik.
“Legitimasi kebenaran kini ditentukan oleh intensitas sirkulasi dan resonansi afektif, bukan verifikasi faktual,” jelasnya.
Eko juga mengkritik pola pelabelan hoaks yang dilakukan institusi negara. Ia menilai pendekatan tersebut tidak selalu mampu menstabilkan makna informasi, bahkan dapat memantik resistensi dalam bentuk digital counterculture.
“Pelabelan institusional terbukti gagal mencapai stabilisasi makna dan justru memicu resistensi digital counterculture,” ujar Eko.
Dalam kajiannya, Eko menyebut fenomena Bjorka juga memperlihatkan krisis verifikasi di ruang publik digital. Ia menyinggung menguatnya illusion of truth effect, ketika informasi yang berulang dianggap benar meski tidak sepenuhnya berbasis fakta.
Eko menilai informasi yang dilabeli hoaks tidak selalu dipahami publik sebagai kebohongan. Menurutnya, informasi tersebut dapat berfungsi sebagai counter-information atau narasi tandingan terhadap wacana dominan.
Sidang ujian terbuka tersebut dipromotori Prof. Dra. Rachmah Ida, M.Comms., Ph.D dengan co-promotor Irfan Wahyudi, S.Sos., M.Comms., Ph.D. Ujian itu menjadi penentu kelulusan Eko dalam Program Doktor Ilmu Sosial FISIP Unair. [ipl]






