Malang (beritajatim.com) – Guru Besar Departemen Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM), Prof. Dr. Hj. Yuni Pratiwi, M.Pd., mengingatkan mahasiswa untuk lebih peka terhadap perkembangan tren penelitian agar tidak terjebak pada judul klasik yang bersifat replikatif. Meski penelitian sering dianggap sebagai beban akhir masa studi, ia menekankan pentingnya inovasi dalam merajut asa melalui karya ilmiah yang bermakna.
Menurut Prof. Yuni, penelitian bahasa dan sastra bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan proses ilmiah yang sistematis dan reflektif untuk mengkaji bahasa, sastra, dan pembelajaran sebagai praktik kultural serta sosial. Hal ini penting untuk menghasilkan pemahaman kritis dan kontribusi teoretik yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Karakteristik utama penelitian yang baik harus berakar pada tiga aspek filsafat ilmu: ontologi untuk memahami hakikat objek kajian, epistemologi untuk menentukan cara memperoleh pengetahuan, dan aksiologi untuk menjelaskan manfaat serta kegunaan hasil penelitian.

“Penelitian bahasa dan sastra harus memberikan penafsiran bermakna serta kontribusi kontekstual yang etis,” ungkap pakar pendidikan bahasa dan sastra tersebut dalam Kuliah Kolaboratif di Aula AVA, Gedung D14 Lt.2 Fakultas Sastra UM pada Rabu (4/2/2026).
Acara yang mempertemukan mahasiswa UM dan Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Universitas KH. Abdul Chalim (UAC) ini menyoroti pergeseran domain penelitian. Tidak hanya berfokus pada mikrolinguistik seperti fonologi atau morfologi, tren saat ini mulai mengarah pada lintas disipliner seperti linguistik forensik, ekolinguistik, hingga sosiologi sastra.
Salah satu tantangan terbesar adalah keberanian mahasiswa untuk menghindari replikasi judul penelitian terdahulu. Prof. Yuni menekankan agar mahasiswa tidak sekadar memindahkan lokasi penelitian tanpa adanya perbedaan konteks yang signifikan.
“Mahasiswa harus memperhatikan tren kebutuhan informasi, teknologi komunikasi, dan keberlanjutan keahlian yang ingin ditekuni,” tambahnya. Ia juga mendorong integrasi isu global seperti Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mendorong kesadaran budaya, inklusi sosial, dan kesetaraan gender dalam naskah skripsi.
Hingga saat ini, pemilihan metode penelitian tetap menjadi fondasi utama. Prof. Yuni memaparkan berbagai pilihan mulai dari kuantitatif, kualitatif, hingga Research and Development (R&D) yang masing-masing memiliki instrumen dan teknik analisis data yang spesifik.
Bagi tenaga pendidik masa depan, penelitian tindakan kelas (PTK) juga sangat disarankan untuk memperbaiki praktik pembelajaran dan memberikan rekomendasi pedagogis yang berkualitas.
Sebagai penutup, Prof. Yuni memberikan tips praktis dalam menyusun judul skripsi yang ideal, yakni berkisar antara 15 hingga 20 kata, mencerminkan inovasi, dan membuka peluang untuk penelitian lanjutan. Ia berharap mahasiswa mampu mengembangkan kompetensi logika dan perilaku literasi yang konstruktif. [dan/aje]






