Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) menerapkan pembelajaran adaptif tanggap bencana di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, dan Aceh Tamiang, Aceh, lewat pelatihan guru.
Kegiatan ini diikuti 250 guru PAUD hingga SMA dari wilayah terdampak banjir, dengan pendampingan langsung 12 dosen Unesa, sebagai upaya menjaga keberlanjutan pembelajaran anak dalam situasi darurat pascabencana di sekolah masing-masing.
Program ini menyasar guru agar hak belajar anak tetap terpenuhi saat krisis, sekaligus membantu pemulihan psikologis peserta didik di wilayah terdampak bencana secara berkelanjutan dan terarah.
“Ini sekaligus mendukung pemulihan psikologis dan menumbuhkan kembali harapan masa depan bagi peserta didik,” jelas Direktur Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS) Unesa Mutimmatul Faidah, Selasa (3/2/2026).
Ia menegaskan pembelajaran adaptif diperlukan agar sekolah tetap berfungsi sebagai ruang aman akademik dan psikososial bagi anak-anak di daerah terdampak, ketika aktivitas pendidikan normal belum sepenuhnya pulih akibat bencana alam.
Pelaksanaan program didukung Dinas Pendidikan Langkat dan Aceh Tamiang, dengan materi dukungan psikososial, pengelolaan kelas krisis, serta strategi pembelajaran adaptif responsif terhadap kondisi siswa pascabencana di sekolah terdampak banjir daerah.
Koordinator Tim Peduli Bencana Unesa Wiryo Nuryono menyebut pendampingan daring berkelanjutan dilakukan pascapelatihan, agar guru memiliki ruang konsultasi dan penguatan praktik pembelajaran adaptif di sekolah masing-masing terdampak bencana alam lokal.
Unesa juga menyalurkan 15 seri buku ajar adaptif dan mengimplementasikan pembelajaran di lima sekolah, melibatkan sekitar 800 siswa, disertai bantuan alat belajar untuk menjaga proses pendidikan tetap berjalan selama masa darurat. [ipl/suf]






