Mojokerto (beritajatim.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto mencatat sektor transportasi, pergudangan, serta informasi dan komunikasi menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah melalui Analisis Shift Share terbaru. Temuan ini menunjukkan adanya transformasi struktur ekonomi yang semakin kompetitif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital pasca pandemi.
Kepala BPS Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny, menjelaskan bahwa instrumen analisis ini digunakan untuk memetakan sektor-sektor yang memiliki performa di atas tren wilayah pembanding. “Analisis shift share ini memberi gambaran sektor mana yang memiliki daya saing relatif lebih kuat dibandingkan wilayah pembanding,” ungkap Yuhenny, Sabtu (31/1/2026).
Sektor Transportasi dan Pergudangan menunjukkan kebangkitan paling signifikan dengan mencatatkan rata-rata nilai shift share mencapai +10,48. Pertumbuhan positif yang konsisten selama empat tahun terakhir ini merupakan cerminan dari meningkatnya aktivitas distribusi barang dan jasa di wilayah tersebut.
“Tren ini mengindikasikan meningkatnya mobilitas barang dan jasa di Kabupaten Mojokerto. Ini juga bisa mencerminkan efek limpahan dari pertumbuhan sektor industri dan perdagangan yang mendorong aktivitas logistik,” papar Yuhenny.
Sektor Informasi dan Komunikasi turut berkontribusi besar dengan rata-rata pertumbuhan positif sebesar +8,49 setiap tahunnya. Fenomena ini didorong oleh percepatan adopsi teknologi informasi yang dilakukan secara masif oleh pelaku usaha dan masyarakat luas.
Lonjakan drastis dialami oleh sektor Pengadaan Listrik dan Gas yang mencapai nilai shift share sebesar +25,90 pada tahun 2023. Keberhasilan ini menandakan peran krusial sektor energi dalam mendukung aktivitas industri manufaktur dan infrastruktur digital di Kabupaten Mojokerto.
“Sektor Pengadaan Listrik dan Gas mencatat kontribusi sangat tinggi terutama pada 2023 dengan nilai shift share +25,90, serta tetap stabil di level tinggi pada tahun lainnya. Rata-rata sektor ini mencapai +8,11, menandakan peran strategisnya dalam menopang pertumbuhan industri dan transformasi digital,” jelasnya.
Di sisi lain, sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial menunjukkan performa yang solid dengan raihan rata-rata +6,56. Pertumbuhan ini dipicu oleh meningkatnya kesadaran masyarakat akan layanan kesehatan serta berkembangnya investasi fasilitas medis swasta.
Namun, beberapa sektor tercatat masih mengalami tekanan berat, salah satunya sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dengan rata-rata hanya +2,18. Sektor pariwisata dan perhotelan dinilai masih dalam tahap pemulihan yang lambat akibat dampak panjang dari krisis kesehatan global sebelumnya.
Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi juga menunjukkan performa yang relatif rendah dengan perolehan angka rata-rata shift share sebesar +0,86. Kondisi ini mengindikasikan perlunya penguatan inovasi dan perluasan penetrasi layanan keuangan formal di tingkat lokal.
Kinerja yang cenderung stagnan juga terlihat pada sektor Konstruksi dengan angka +0,25 serta Jasa Perusahaan sebesar +2,90. Sementara itu, sektor Pertambangan dan Penggalian secara konsisten berada di zona negatif dengan nilai rata-rata mencapai -4,70.
Tren penurunan pada sektor ekstraktif ini dipandang sebagai sinyal transisi menuju arah pembangunan ekonomi daerah yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah daerah diharapkan dapat menggunakan data ini sebagai dasar perumusan kebijakan strategis untuk memperkuat sektor-sektor potensial.
“Ini menjadi sinyal penting bagi perencanaan pembangunan daerah ke depan. Kami berharap hasil analisis ini dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengembangan sektor unggulan dan penguatan sektor yang masih tertinggal,” tegas Yuhenny. [tin/beq]







