Bondowoso (beritajatim.com) – Seorang guru olahraga melangkah tegap menenteng tumpukan ompreng yang terikat erat dengan tali rafia merah di lorong sekolah. Langkah kakinya dari ruang guru menuju ruang kelas menjadi pemandangan yang paling dinantikan oleh puluhan siswa di SDN Taman 3, Desa Taman, Bondowoso.
Ompreng-ompreng tersebut berisi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang segera dibagikan kepada para siswa yang telah berbaris rapi. Program ini terbukti menjadi magnet kuat yang menarik minat anak-anak di pelosok desa untuk rajin melangkahkan kaki ke sekolah.
Hari ini, Rabu (28/1/2026), menjadi kali ketiga para siswa menikmati paket gizi seimbang sejak program digulirkan pada awal pekan. Menu yang tersaji cukup menggugah selera, terdiri dari ayam rolade, tempe bacem, tumis buncis jagung, serta sebuah apel utuh sebagai pencuci mulut.
Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Taman Krocok, Burhanuddin, memastikan distribusi makanan berjalan lancar tanpa hambatan teknis yang berarti. Program ini dirancang untuk mencakup seluruh lapisan warga sekolah guna memastikan standar gizi yang merata di wilayah tersebut.
“Untuk penerima manfaat di SDN Taman 3 ada 70 orang. Itu siswa dan guru,” kata Kepala SPPG Taman Krocok, Burhanuddin, Rabu (28/01/2026).
Secara lebih luas, SPPG Taman Krocok mengover hingga 1.353 penerima manfaat yang tersebar di Desa Taman, Sumberkokap, Paguan, dan Triwungan. Burhanuddin menegaskan timnya terus memetakan risiko distribusi mengingat cakupan wilayah yang mulai menyentuh area dengan akses geografis sulit.
“Tapi kami wajib siap menghadapi kendala apapaun ke depannya, seperti akses jalan ekstrem seiring bertambahnya cakupan wilayah,” tegasnya secara lugas.
Dampak dari kehadiran MBG ini terasa sangat nyata pada tingkat partisipasi siswa yang tercatat dalam buku absen kelas. Kepala SDN Taman 3, Samsul Hadi S, mengungkapkan rincian total 59 siswa yang kini selalu hadir lengkap dari kelas I hingga VI.
Sebelum program ini berjalan, angka kehadiran harian di sekolah pelosok tersebut seringkali fluktuatif hanya di kisaran 70 hingga 80 persen. Kini, fenomena “bolos sekolah” hampir tidak ditemukan lagi semenjak aroma masakan bergizi tercium dari dapur penyedia.
“Alhamdulillah, setelah ada MBG, mereka datang semua. Salah satu alasan katanya penasaran dengan menu MBG setiap harinya,” ucap Samsul dengan nada bangga.
Kondisi ini mengubah pola kerja para guru yang sebelumnya harus sering melakukan kunjungan rumah untuk menjemput siswa yang mangkir. Sekarang, semangat belajar anak-anak tumbuh secara mandiri hanya karena motivasi sederhana berupa rasa penasaran terhadap menu harian.
“Kita tidak perlu lagi menjemput. Mereka datang sendiri. Maklum, wilayah pelosok desa berbeda dengan di kota,” ulas Samsul mengenai perubahan perilaku siswanya.
Nia, salah satu siswi kelas VI, tidak bisa menyembunyikan rona bahagia saat menerima ompreng miliknya yang masih hangat. Baginya, momen makan bersama di kelas telah menjadi jadwal favorit baru yang membuat hari-harinya di sekolah terasa jauh lebih menyenangkan.
Siswa yang gemar mengonsumsi protein ini mengaku selalu menghabiskan jatah makanannya tanpa sisa sejak hari pertama dropping dilakukan. Ia bahkan sudah memiliki menu idaman tersendiri yang diharapkan muncul dalam daftar hidangan pada pekan-pekan mendatang.
“Yang paling enak pas lauk ayam krispy. Kalau bisa, besok-besok pakai ayam krispy lagi,” pintanya sembari tersenyum lebar kepada gurunya.
Kisah dari SDN Taman 3 Bondowoso ini menjadi bukti konkret bahwa pendekatan gizi yang tepat mampu menjadi solusi atas tantangan pendidikan di daerah terpencil. Kolaborasi antara asupan nutrisi dan pelayanan pendidikan menciptakan sinergi positif bagi masa depan generasi muda di Jawa Timur. [awi/beq]






