Surabaya (beritajatim.com) – Harga perak dunia mengalami gejolak tajam pada awal pekan ini setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level USD 117,69 per ons.
Namun, reli tersebut tidak bertahan lama karena harga kembali terkoreksi pada Selasa, seiring meningkatnya volatilitas ekstrem di pasar logam mulia yang memicu kekhawatiran akan potensi puncak harga.
Lonjakan volatilitas tercermin dari indeks volatilitas tersirat ETF iShares Silver Trust (VXSLV) yang menembus angka 100 pada Senin dan sempat mencapai 120 secara intraday. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak gejolak pasar global pada Maret 2020 saat pandemi COVID-19. Sejumlah analis menilai volatilitas setinggi ini kerap menjadi sinyal fase akhir dari sebuah reli harga.
Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa pergerakan harga perak tidak hanya berpotensi mengalami koreksi, tetapi juga dapat berdampak pada pasar logam mulia secara lebih luas.
Ketegangan Geopolitik Dorong Reli Logam Mulia
Kenaikan harga perak terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan eskalasi tensi perdagangan internasional.
Ancaman kebijakan tarif dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Kanada dan Korea Selatan mendorong investor beralih ke aset lindung nilai (safe haven). Di sisi lain, pelemahan dolar AS turut memperkuat daya tarik logam mulia.
Tidak hanya perak, harga emas juga mencatatkan tonggak sejarah baru dengan menembus level USD 5.100 per ons, setelah sebelumnya melampaui ambang USD 5.000.
Sejumlah lembaga keuangan internasional bahkan memproyeksikan harga emas berpotensi naik hingga USD 6.000 per ons pada akhir tahun ini.
Sepanjang 2026, harga perak tercatat telah melonjak lebih dari 50 persen, melanjutkan reli signifikan sekitar 145 persen sepanjang tahun 2025. Tren ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap logam mulia sebagai instrumen defensif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analis Ingatkan Risiko Koreksi Tajam
Meski sentimen bullish masih mendominasi, sejumlah analis mengingatkan risiko koreksi harga yang cukup dalam. Beberapa pengamat membandingkan situasi saat ini dengan gelembung spekulatif pada periode sebelumnya, termasuk lonjakan harga perak pada 2011 yang diikuti penurunan tajam.
Pasar perak juga telah mengalami volatilitas tinggi sepanjang tahun ini. Pada awal Januari, harga sempat anjlok lebih dari 5 persen dalam satu sesi perdagangan setelah CME Group menaikkan persyaratan margin secara signifikan. Meski harga kembali pulih, volatilitas harian perak masih berada di kisaran tinggi, mencerminkan risiko pergerakan harga yang ekstrem.
Faktor Fundamental Dukung Prospek Jangka Panjang
Di sisi lain, pendukung reli perak menyoroti adanya defisit pasokan struktural yang telah berlangsung selama lima tahun berturut-turut. Kebijakan China yang mengklasifikasikan perak sebagai logam strategis dengan kegunaan ganda, disertai pembatasan ekspor, turut memperketat pasokan global.
Permintaan ritel juga dilaporkan meningkat signifikan, dengan pembelian dana berbasis perak mencapai rekor baru. Permintaan yang sebelumnya didominasi investor institusional kini semakin meluas ke investor individu.
Rasio emas terhadap perak yang menyempit drastis dari sekitar 105 pada akhir 2025 menjadi kisaran 50-an turut mencerminkan kinerja perak yang lebih unggul. Meski demikian, sebagian analis tetap menilai emas sebagai aset yang relatif lebih stabil, mengingat potensi koreksi tajam perak dapat menimbulkan efek domino ke pasar logam mulia secara keseluruhan. (berbagai sumber/ted)






