Kediri (beritajatim.com) – Nasi pecel menjadi denyut kuliner sekaligus penggerak ekonomi rakyat di Kediri, Jawa Timur. Hingga kini, makanan berbasis sambal kacang itu tidak hanya dikonsumsi sebagai menu harian warga, tetapi juga melahirkan warung legendaris lintas generasi, industri rumahan yang bertahan puluhan tahun, serta destinasi wisata kuliner yang terus hidup di ruang-ruang publik kota.
Fenomena ini terjadi di Kediri, wilayah selatan Pulau Jawa yang sejak lama dikenal sebagai “kota pecel”, karena sebagian besar masyarakatnya menjadikan nasi pecel sebagai sarapan utama. Nasi pecel dijual di pasar tradisional, kaki lima, hingga dikemas sebagai produk sambel pecel yang dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri.
Tradisi ini tumbuh dari kebiasaan lokal, bertahan lewat pewarisan resep keluarga, dan kini diperkuat oleh geliat UMKM serta dukungan pemerintah daerah.
Salah satu bukti kuatnya tradisi tersebut tampak di Pasar Mojo, Kabupaten Kediri. Di tempat ini, Suryati (59) masih setia menjajakan nasi pecel di lapak sederhana tanpa nama sejak lebih dari setengah abad lalu.
Ia merupakan generasi kedua penerus sang ibu, Marwiyah, yang dahulu berjualan nasi pecel dengan cara dipikul dari rumah ke pasar. Suryati mulai membantu sejak kecil dan resmi menggantikan ibunya sekitar 40 tahun lalu, hanya berbekal pendidikan sekolah dasar yang tak sempat ia tuntaskan karena harus ikut berdagang.
Warung nasi pecel Suryati hanya buka saat pasaran Pon dan hingga kini tetap mempertahankan kesederhanaan, dengan meja kayu, perabot rumahan, serta area makan yang hanya muat lima hingga tujuh orang.
Menu awalnya hanya nasi pecel dan cineng, makanan tradisional berbahan ketela, lalu berkembang menjadi tahu lontong, soto daging, hingga jenang cendol dawet. Seporsi nasi pecel berisi nasi putih, bayam, daun turi, kecambah, sambal pecel khas, serta rempeyek kacang, dengan harga Rp7.000 per porsi.
Keistimewaan warung ini terletak pada rasa sambal pecelnya yang disebut pelanggan tidak pernah berubah sejak puluhan tahun lalu. Pelanggannya pun lintas generasi, mulai dari pedagang pasar hingga warga luar kota.
Mbah Semi, pelanggan setia yang tinggal di lereng Gunung Wilis di wilayah Kecamatan Mojo, mengaku selalu sarapan di warung tersebut setiap kali berjualan ke Pasar Mojo sejak era Marwiyah. Sementara itu, Tanto, warga Kota Kediri, rela datang khusus ke pasar demi menikmati nasi pecel yang menurutnya memiliki karakter rasa berbeda dan sulit ditemukan di tempat lain.
Industri Rumahan Sambel Pecel
Dari pasar tradisional, denyut pecel Kediri juga bergerak ke skala industri rumahan melalui Sambel Pecel MT di Jalan Joyoboyo Gang 1, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri. Usaha yang dirintis Mukti sejak 1979 dan berkembang pesat sejak awal 2000-an ini kini mampu memproduksi hingga 4 kuintal sambel pecel per hari dengan mengolah lebih dari dua kuintal kacang tanah, melibatkan sekitar 20 karyawan dari lingkungan sekitar.
Produksi dilakukan setiap hari sejak pagi, bahkan tetap berjalan penuh saat akhir pekan atau menjelang Ramadan dan Lebaran ketika permintaan meningkat tajam. “Jam 07.00 WIB pegawai sudah datang, mulai produksi dan bungkus jam 08.00 WIB. Setiap hari produksinya empat kuintal,” ujarnya.
Sambel pecel dijual Rp36.000 per kilogram, dengan kualitas yang dijaga ketat melalui resep khas yang tidak pernah diubah, termasuk penggunaan cabai dan proses sangrai seluruh bahan agar sambal tidak berminyak dan tahan hingga tiga bulan. Tantangan utama usaha ini bukan pada cabai, melainkan harga kacang tanah yang fluktuatif dan cenderung bertahan lama saat naik.
“Kalau cabai mahal masih bisa ditoleransi, tapi kalau kacang naik ya mau nggak mau ikut naik. Tapi naiknya juga nggak bisa banyak, paling Rp2.000. Kalau cabai naiknya kan nggak lama, nggak sampai sebulan,” jelasnya.
Untuk bahan baku seperti kacang tanah, ia membeli di pasar grosir di Kediri, bahkan sesekali didatangkan dari Pati. Mukti mengaku memiliki langganan sendiri dan rutin membandingkan harga demi menjaga kestabilan biaya produksi.
Meski berada di sentra industri sambel pecel, Mukti mengaku bertahan secara mandiri tanpa bantuan pemerintah sejak janji bantuan mesin produksi pada 2005 tak pernah terealisasi. Kini ia justru telah memiliki beberapa mesin selep dan pengupas kacang sendiri. “Dulu katanya mau dibantu mesin selepan, tapi nggak pernah ada. Akhirnya bisa beli sendiri sampai sekarang,” ungkapnya.
Produk Sambel Pecel MT dipasarkan secara lokal, dikirim ke Surabaya, Malang, hingga Jakarta melalui kereta api dan jasa ekspedisi, serta dijual lewat marketplace dengan sistem reseller. “Kalau ke Jakarta lewat KAI, kalau Surabaya dan Malang lewat JNE. Biasanya satu koli atau dus isi 20 kilogram, tergantung pesanan,” ujarnya.
Selain itu, Sambel Pecel MT juga dijual langsung di rumah produksi dan di beberapa marketplace online seperti Shopee, meski dikelola oleh reseller. “Kalau buka online sendiri nggak telaten. Kan biasanya pesannya sedikit-sedikit,” terang Mukti.
Cara Buat Sambal Pecel Khas Kediri
Sambal kacang menjadi salah satu makanan yang mirip dengan saus. Biasanya, sambal kacang dipakai untuk melengkapi sayuran pecel. Ada banyak macam versi sambal pecel yang bisa dicicipi, salah satunya sambal pecel khas Kediri.
Ciri khas sambal pecel khas Kediri adalah penggunaan kencur, sehingga rasanya semakin legit dan beraroma rempah. Cara pembuatan sambal pecel khas Kediri juga tidak terlalu sulit.
Bahan-bahan yang diperlukan seperti kacang tanah, gula aren, kencur, dan lainnya. Proses pembuatan dimulai dari kacang yang disangrai atau digoreng.
Untuk kacang, pastikan kualitasnya bagus (tidak ada mereknya, sesuai pengalaman di pasar kota masing-masing). Untuk gula, sebaiknya gunakan gula aren (memberi kesan manis legit) atau gula jawa/gula kelapa (memberi kesan manis gurih). Jangan menggunakan gula merah hasil rafinasi tebu, karena rasanya akan dominan manis saja.
Di tingkat kota, pecel juga menjadi wajah wisata kuliner Kediri, salah satunya di sepanjang Jalan Dhoho yang dikenal sebagai sentra nasi pecel tumpang.
Di kawasan ini, penjual seperti Mbak Lastri melayani pembeli dengan konsep lesehan, menyajikan nasi dengan dua jenis sambal, yakni pecel berbahan kacang dan tumpang berbahan tempe fermentasi, dilengkapi aneka lauk tradisional dengan harga terjangkau Rp10.000–Rp15.000 per porsi.
Mbak Lastri menjelaskan, pecel berbahan dasar sambal kacang, sementara tumpang adalah sambal tempe yang sudah difermentasi. Untuk sayurannya sama, menggunakan kubis, kacang panjang, tauge, sawi, dan kembang turi yang sudah dikukus sebelumnya.
Ada banyak lauk di lapak Mbak Lastri, mulai dari dendeng ragi, sate telur puyuh, sate usus, sate hati dan ampela ayam, telur ceplok, babat goreng, paru goreng, telur asin, hingga ayam goreng. Rasanya begitu menggugah selera.
Penguatan identitas kuliner ini turut didukung Pemerintah Kota Kediri melalui kegiatan “Mecel Bareng Mbak Wali” yang digelar di kawasan Jalan Stasiun sebagai bagian dari program Kediri City Tourism (D’CITO).
Dalam acara tersebut, Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati duduk lesehan bersama warga, menikmati pecel khas Kediri dari 20 lapak penjual yang masing-masing menyediakan 100 porsi untuk masyarakat.
Mbak Wali menyampaikan bahwa pecel tumpang merupakan salah satu ikon kuliner khas Kota Kediri yang harus terus dikenalkan dan dibanggakan bersama. Selain rasanya yang enak dan menggugah selera, sambel tumpang memiliki cita rasa yang sangat khas dan tidak semua daerah memilikinya.
“Makan pecel bersama masyarakat hari ini menjadi simbol kebersamaan sekaligus wujud kecintaan kita terhadap kuliner lokal. Dengan diresmikannya Jalan Stasiun, kami berharap para pedagang pecel tumpang di sepanjang Jalan Dhoho semakin ramai, semakin dikenal masyarakat luas, dan mampu berkembang sebagai destinasi wisata kuliner,” ujarnya.
Wali kota termuda ini berharap kegiatan berbasis kuliner lokal tersebut mampu mendorong peningkatan aktivitas UMKM dan pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. “Harapannya, geliat UMKM semakin meningkat dan pertumbuhan ekonomi Kota Kediri dapat terus terdorong secara berkelanjutan,” imbuhnya.
Dari warung pasar yang bertahan lebih dari setengah abad, industri sambel pecel yang konsisten menjaga resep selama 25 tahun, hingga ruang kota yang hidup oleh aktivitas kuliner, nasi pecel bukan sekadar makanan bagi Kediri, melainkan identitas, sumber penghidupan, dan cerita tentang ketekunan warga menjaga rasa, tradisi, dan kepercayaan pelanggan lintas generasi. [nm/kun]








