Mojokerto (beritajatim.com) – Setelah delapan tahun berkarier di dunia sepak bola profesional, Fajar Cahyo Wibowo (34) memilih mengganti sorak tribun dengan kicau burung kenari. Mantan pemain PS Mojokerto Putra (PSMP) itu kini dikenal sebagai salah satu importir kenari di Mojokerto dengan perputaran omzet mencapai ratusan juta rupiah setiap bulan.
Bertempat di Dusun Wonokerto, Desa Windurejo, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Fajar menjalankan usaha kenari impor dari berbagai negara seperti Iran, Italia, dan Turki. Jenis yang dipasarkan pun beragam, mulai dari Rasmi, Scotch Fancy (SF), Yorkshire (YS), hingga kenari lokal dan Another Filial (AF).
“Setelah main bola, saya beralih ke burung kenari. Dari kecil memang sudah suka kenari, awalnya jual kenari lokal dulu. Kenari ini tidak kenal musim, harga dan permintaan pasar stabil. Pasarnya stabil karena penggemar kenari terus ada,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya, Senin (26/1/2026).
Karier sepak bola Fajar dimulai sejak memperkuat Persekab pada 2008–2017, kemudian PSMP Mojokerto pada 2018, Arema Indonesia pada 2019. Ia juga tergabung dalam skuad PON Jawa Timur 2012. Namun, keterbatasan usia dan fisik membuatnya harus realistis menentukan masa depan.
Sejak 2022–2023, suami dari Siti Fatimah (30) ini mulai fokus mendatangkan kenari impor. Hingga 2025–2026, volumenya terus meningkat. Dalam sekali pengiriman, ia bisa mendatangkan dua box sekaligus, satu box berisi 50 ekor kenari. Terakhir ia mendatangkan dua box yang berisi 100 ekor.
Harga Fantastis, Peminat Tinggi
Harga kenari impor yang ditawarkan cukup fantastis. Untuk jenis Rasmi asal Iran, harga berkisar Rp5 juta hingga Rp12 juta per ekor. Scotch Fancy dari Italia dibanderol Rp1,6 juta sampai Rp2,8 juta, sementara Yorkshire dari Turki dijual Rp4,5 juta hingga Rp7 juta.
Sedangkan kenari lokal dibanderol Rp100 ribu hingga Rp300 ribu per ekor, dan jenis AF di kisaran Rp300 ribu sampai Rp700 ribu. Pembeli datang dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Mojokerto, Jombang, Sidoarjo, hingga Pasuruan. Pengiriman ke luar daerah seperti Jawa Barat dan Bali dilakukan melalui jasa ekspedisi khusus hewan, KI8 Express.
“Sekarang main volume. Rata-rata sebulan satu box habis. Ini kemarin ambil dua box jenis Rasmi, nilai jual Rasmi itu ada di ekornya. Semakin panjang, harganya makin mahal. Itu murni genetik, tidak ada suplemen. Dari induknya. Kalau dihitung, sehari bisa laku tiga sampai empat ekor,” jelasnya.
Dengan penjualan rata-rata tiga hingga empat ekor per hari, Fajar mengaku omzet bulanannya bisa mencapai Rp200 juta hingga Rp300 juta. Untuk menjaga kualitas burung impor, Fajar menerapkan sistem perawatan indoor tanpa penjemuran. Kandang dilengkapi alat penyedot kelembapan untuk menyesuaikan kondisi iklim tropis Indonesia.
Lampu diatur menyala selama 12–13 jam per hari agar waktu istirahat burung tetap stabil. Pakan berupa biji-bijian diberikan satu kali sehari di pagi hari, dengan air minum dan kandang yang wajib dibersihkan setiap hari. Burung impor dari luar negeri dikarantina dulu satu minggu.
“Setelah dari karatina dibawa ke saya. Setelah itu saya beri antibiotik alami dari bawang putih, dua siung bawang putih saha grepek dicampur air 1,5 liter baru dikasih vitamin,” terangnya.
Sebagai mantan atlet, bapak dua anak ini berharap kisahnya bisa menjadi motivasi bagi generasi muda. Khususnya para pemain sepak bola yang harus menghadapi kenyataan pahit berhenti lebih cepat dari lapangan hijau.
“Kalau satu pintu tertutup, masih banyak pintu lain. Kelebihan yang kita punya harus terus dikembangkan. Pelan-pelan, tetap semangat. Meski tidak di sepak bola, kita tetap bisa hidup dan sukses dari usaha lain. Usia di sepak bola ada batas. Tapi hidup tidak berhenti. Selama mau belajar dan tekun, peluang selalu ada,” pungkasnya.
Kisah Fajar Cahyo Wibowo menunjukkan bahwa hobi yang ditekuni dengan serius bisa menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan, bahkan setelah lampu stadion tak lagi menyala. [tin/aje]






