Jakarta (beritajatim.com) – Biaya konsumsi jemaah haji Indonesia pada musim haji 1447 H/2026 M dipastikan turun menjadi 36 riyal per porsi dari sebelumnya 40 riyal, namun pemerintah justru meningkatkan gramasi makanan seperti porsi nasi dan lauk berdasarkan rekomendasi ahli gizi. Penurunan harga paket konsumsi ini sekaligus menghasilkan efisiensi anggaran negara yang sangat signifikan mencapai lebih dari Rp123 miliar.
Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk memastikan jemaah tetap mendapatkan asupan nutrisi yang cukup di tengah kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi. Meskipun proses pengadaan konsumsi ini memakan waktu cukup lama karena menjadi tahapan terakhir sebelum akomodasi, hasil negosiasi tersebut memberikan keuntungan ganda bagi pemerintah dan jemaah.
“Terkait dengan pengadaan konsumsi memang kemarin konsumsi prosesnya yang paling akhir, termasuk yang agak lama sebelum akomodasi. Nah, konsumsi itu memang mengalami penurunan harga dari 40 riyal menjadi 36 riyal, tapi gramasinya itu mengalami kenaikan,” kata Dahnil dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (21/1/2026).
Peningkatan volume makanan ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan energi jemaah. Salah satu perubahan mencolok adalah penambahan porsi nasi dari 150 gram menjadi 170 gram per porsi. Tidak hanya nasi, porsi lauk pauk yang mengandung protein juga ditambah untuk menjaga daya tahan tubuh jemaah selama menjalankan prosesi ibadah yang berat secara fisik.
Dahnil memaparkan bahwa perubahan komposisi ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan merujuk pada tinjauan para ahli medis. Fokus utama pemerintah adalah pada proporsionalitas gizi agar jemaah tidak kekurangan energi namun tetap mendapatkan keseimbangan asupan nutrisi.
“Ahli gizi menyebutkan yang harusnya dinaikkan itu adalah lauk, lauk protein dalam hal ini dan sayur-mayur atau buah itu diturunkan 5 gram. Ini terkait dengan proporsionalitas dari komposisi gizi masing-masing,” ujar Dahnil menjelaskan alasan penyesuaian gramasi tersebut.
Kabar mengenai efisiensi biaya ini menjadi angin segar bagi calon jemaah haji, termasuk puluhan ribu jemaah dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur yang berangkat melalui Embarkasi Surabaya. Penurunan biaya per unit ini membuktikan bahwa manajemen logistik haji tahun 2026 mampu memberikan kualitas lebih dengan biaya yang lebih rendah.
“Perlu kami diskusikan dengan Bapak Ibu di Komisi VIII, dari konsumsi itu kami melakukan efisiensi lebih dari Rp123 miliar dari total biaya yang harusnya kita alokasikan untuk konsumsi,” ucap Dahnil menambahkan.
Langkah efisiensi ini merupakan bagian dari upaya besar Kementerian Haji dan Umrah untuk menjaga keberlanjutan keuangan haji tanpa mengorbankan standar pelayanan. Dengan porsi lauk yang lebih banyak dan nasi yang lebih mengenyangkan, pemerintah optimistis tingkat kepuasan dan kesehatan jemaah selama berada di Makkah dan Madinah akan tetap terjaga dengan baik.
“Nasi dari 150 gram menjadi 170 gram, termasuk lauk. Di luar itu, kami melakukan efisiensi lebih dari Rp123 miliar dari total alokasi biaya konsumsi,” tegas Dahnil menutup penjelasannya mengenai optimalisasi anggaran tersebut.[ian/aje]






