Situbondo (beritajatim.com) – Kurang lebih 1.500 orang warga di Desa Patemon dan Wringin Anom, Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, terisolasi, menyusul terjadinya banjir bandang, 21 Januari 2026.
“Mereka tidak bisa ke mana-mana. Saya menyusuri sungai, tidak ada akses. Jembatan putus, Jalan pun hancur,” kata Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo. saat meninjau lokasi, di Desa Wringin, Sabtu (24/1/2026).
Sementara ini, Pemkab Situbondo memberikan bantuan sembako. “Jangka panjangnya pasti kami anggarkan. Tapi anggaran kami sangat terbatas. Kami akan mohonkan ke pemerintah provinsi dan pusat,” kata Rio.
Situasi ini juga membuat pemerintah kesulitan mendistribusikan bantuan dan memberikan layanan dasar. Namun Rio menegaskan semua cara akan dilakukan untuk memastikan warga yang terdampak bencana bisa menerima bantuan.
Sementara itu, Beby Syaifullah, seorang warga setempat, mengatakan, dengan terputusnya dua jembatan di Dusun Wringin dan Dusun Krajan, warga tidak bisa menyeberang. “Akses keluar-masuk terputus, aktivitas warga, termasuk belanja kebutuhan pokok jadi terganggu,” katanya.
Ada 150 keluarga di Dusun Krajan yang selama ini berbelanja ke wilayah Wringinanom atau Kecamatan Jatibanteng, dan kawasan Besuki. “Jalur ini satu-satunya akses,” kata Beby.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Situbondo mendirikan posko kesehatan’ untuk melayani warga terdampak banjir. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo, Dwi Herman Susilo, mengerahkan tenaga dari puskesmas terdekat. “Kita juga di-backup dari RSUD Besuki dan dari Dinas Kesehatan,” katanya.
Fokus utama posko adalah memastikan masyarakat memperoleh penanganan medis secara cepat dan tepat di lokasi terdampak. Apabila kondisi pasien memerlukan penanganan lanjutan, maka akan dirujuk ke puskesmas atau rumah sakit.
Sejauh ini, jenis keluhan kesehatan yang ditemukan pada warga terdampak banjir didominasi gangguan fisik ringan. “Rata-rata luka, seperti kena paku, atau demam karena semalaman kedinginan,” kata Dwi.
Salah satunya adalah Samsuri (56), warga Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, yang tertusuk paku di bagian kaki. “Saat hujan deras itu saya tidak sadar menginjak paku karena kondisi gelap dan air cukup deras,” katanya. [wir]






