Situbondo (beritajatim.com) – Operasi pencarian dua warga Kecamatan Jatibanteng yang hanyut terseret arus banjir pekan lalu akhirnya berakhir. Kedua korban berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di lokasi berbeda dengan rentang waktu dua hari.
Koordinator Pusdalops BPBD Situbondo, Puriyono, membenarkan bahwa korban pertama yang berhasil dievakuasi adalah Tohari (44) pada Selasa (10/3/2026), disusul kemudian Jaelani (53) pada Kamis (12/3/2026).
“Kronologinya, korban atas nama Bapak Tohari ditemukan lebih dulu, yaitu Selasa sore. Kemudian dua hari setelahnya, Kamis siang, korban kedua atas nama Bapak Jaelani berhasil kami evakuasi,” ujar Puriyono saat dikonfirmasi, Kamis (12/3/2026).

Tohari Ditemukan Pertama Kali
Puriyono menjelaskan, jasad Tohari ditemukan pada Selasa (10/3/2026) sekira pukul 16.30 WIB di aliran Sungai Lubawang, tepatnya di Dusun Petak, Desa Bloro, Kecamatan Besuki. Penemuan berawal dari laporan warga bernama Arip yang melihat sesosok mayat tersangkut di sela-sela tumpukan sampah.
“Korban ditemukan dalam kondisi tanpa pakaian. Tim SAR gabungan yang saat itu masih melakukan pencarian langsung bergerak menuju lokasi dan melakukan evakuasi,” jelasnya.
Jenazah Tohari langsung dibawa ke RSUD Besuki menggunakan mobil Tagana Rescue untuk pemeriksaan lebih lanjut. Proses identifikasi berlangsung cepat dan pihak keluarga bersama Kepala Desa Patemon membenarkan bahwa ciri-ciri jenazah tersebut sesuai dengan Tohari.
“Pukul 20.30 WIB, jenazah telah teridentifikasi dan resmi diserahkan oleh pihak RSUD Besuki kepada keluarga untuk dimakamkan di rumah duka Dusun Krajan, Desa Patemon,” tambah Puriyono.
Jaelani Menyusul Dua Hari Kemudian
Sementara itu, korban kedua, Jaelani (53) warga Desa Sumberanyar, baru ditemukan pada Kamis (12/3/2026) pukul 10.41 WIB di aliran Sungai Kali Basian, tepatnya di Dusun Bloro Barat, Desa Bloro, Kecamatan Besuki.
“Tim SAR gabungan mencium bau busuk yang sangat menyengat dan menemukan mayat dalam posisi tengkurap dengan sebagian badan tertimbun pasir. Evakuasi dilakukan dengan menggali pasir yang menimbun korban,” ungkap Puriyono.
Jenazah Jaelani tiba di RSUD Besuki pukul 11.30 WIB dan setelah melalui proses identifikasi, pihak keluarga bersama Kepala Desa Sumberanyar membenarkan bahwa jenazah tersebut adalah Jaelani. Pukul 15.00 WIB, jenazah diserahkan kepada keluarga dan diberangkatkan menuju rumah duka di Dusun Krajan, Desa Sumberanyar untuk dimakamkan.

Kronologi Kejadian
Kedua korban dilaporkan hanyut pada hari yang sama, Sabtu (7/3/2026), di lokasi berbeda. Tohari hanyut di Sungai Patemon, Desa Patemon sekitar pukul 16.30 WIB saat hendak menyebrang sungai setelah mencari rumput.
Sementara Jelani hanyut di Sungai Basean, Desa Sumberanyar sekitar pukul 17.00 WIB saat mencoba menyebrang irigasi persawahan.
Operasi SAR Dinyatakan Selesai
Dengan ditemukannya kedua korban, Koordinator Basarnas Kantor SAR Banyuwangi menyatakan bahwa Operasi SAR gabungan resmi ditutup.
“Alhamdulillah, kedua korban sudah ditemukan. Operasi pencarian untuk kedua korban kami nyatakan selesai dan ditutup,” ungkap Puriyono.
Pihak keluarga kedua korban disebutkan telah menerima musibah ini dengan ikhlas dan membuat surat pernyataan resmi.
Dalam operasi pencarian yang berlangsung beberapa hari ini, berbagai unsur terlibat aktif, antara lain BPBD Situbondo, Basarnas Banyuwangi dan Jember, Tagana, TNI dari Koramil Jatibanteng dan Besuki, Polsek Jatibanteng, Banyuglugur, dan Besuki, perangkat desa, serta relawan dan warga setempat.
Imbauan Kewaspadaan
Menyikapi kejadian ini, Puriyono kembali mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai, untuk selalu waspada terhadap potensi banjir mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di wilayah Situbondo.
“Kami mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak memaksakan diri menyeberangi sungai saat debit air tinggi. Keselamatan harus menjadi yang utama,” pungkasnya. (awi/but)






