Magetan (beritajatim.com) — Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Kabupaten Magetan pada November 2025 tercatat sebesar 14,65 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan dibanding bulan sebelumnya, meski secara tahunan masih mengalami sedikit penurunan.
Data ini dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Magetan dalam Berita Resmi Statistik (BRS) Perkembangan Pariwisata November 2025 yang dipublikasikan pada 6 Januari 2026.
BPS mencatat, dibandingkan Oktober 2025, TPK hotel di Magetan naik 1,21 poin secara month to month (m-to-m). Namun jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (November 2024), TPK mengalami penurunan tipis sebesar 0,17 poin.
Artinya, dari setiap 100 kamar hotel yang tersedia di Magetan, rata-rata hanya sekitar 14 hingga 15 kamar yang terisi setiap malamnya sepanjang November 2025.
“TPK merupakan indikator penting untuk melihat tingkat produktivitas usaha jasa akomodasi. Jika TPK semakin tinggi dan mendekati 100 persen, berarti tingkat keterisian kamar semakin optimal,” ujar Kepala BPS Kabupaten Magetan, Mohamad Samsodin, dalam keterangan resminya.
Selain TPK, BPS juga mencatat Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) hotel di Magetan pada November 2025 berada di angka 1,03 hari. Dengan kata lain, wisatawan yang menginap di hotel di Magetan rata-rata hanya tinggal 1 hingga 2 hari.
Menurut BPS, RLMT menjadi indikator penting untuk mengukur daya tarik sektor pariwisata suatu daerah. Semakin lama wisatawan menginap, semakin besar pula potensi perputaran ekonomi lokal, khususnya di sektor perhotelan, kuliner, dan jasa wisata.
“Nilai RLMT dapat digunakan sebagai gambaran kemampuan daerah dalam memikat wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara,” kata Mohamad Samsodin.
Sepanjang 2025, TPK hotel di Kabupaten Magetan mengalami fluktuasi. Setelah sempat naik pada pertengahan tahun, tingkat hunian kamar kembali menurun pada Agustus hingga Oktober, sebelum akhirnya kembali meningkat pada November.
BPS menilai dinamika ini dipengaruhi oleh faktor musiman, agenda wisata, serta mobilitas masyarakat. Meski demikian, capaian November menunjukkan adanya sinyal pemulihan aktivitas pariwisata, meski belum sepenuhnya stabil.
Secara umum, kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah dan pelaku pariwisata untuk memperkuat promosi destinasi unggulan seperti Telaga Sarangan, wisata alam, hingga event-event daerah agar mampu meningkatkan lama tinggal wisatawan di Magetan. [fiq/aje]






