Jakarta (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 mulai mendalami teknik perawatan intensif bagi jemaah lansia dan disabilitas, mulai dari simulasi mengganti popok (pampers) hingga prosedur memandikan jemaah yang tidak mandiri. Langkah ini merupakan bagian dari kurikulum baru dalam Pendidikan dan Latihan (Diklat) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Kamis (22/1/2026), guna memastikan 290 petugas layanan lansia siap menjadi caregiver profesional selama 65 hari masa operasional di tanah suci.
Agus Pribowo, instruktur layanan lansia dan Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH), menjelaskan bahwa petugas kini wajib menguasai empat aspek utama: kesehatan, sosial, psikologi, dan kemandirian sehari-hari. Meskipun mayoritas petugas berasal dari tenaga umum dan bukan tenaga kesehatan, mereka dilatih untuk berkolaborasi erat dengan tim medis guna menangani jemaah yang mengalami keterbatasan fisik atau tirah baring (bedrest).
“Keseharian itu nanti yang akan menjadi domain tugas para petugas Tusi Lansia di hotel-hotel. Mengingat jumlah jemaah lansia cukup banyak, 15 orang petugas di tiap sektor akan bertugas sebagai caregiver, mengurus mandi, makan, hingga membimbing wudu bagi jemaah yang kaku seperti kayu,” ujar Agus Pribowo saat ditemui di lokasi praktik.
Inovasi krusial pada musim haji 1447 H/2026 M adalah penguatan sistem sortir jemaah berisiko tinggi (risti) sebelum memasuki fase puncak Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Jemaah yang teridentifikasi mengalami demensia, pikun, atau delirium akan dipisahkan dari rombongan reguler dan ditempatkan di hotel transit untuk mengikuti program Safari Wukuf. Strategi ini diambil untuk mencegah jemaah lansia tersesat atau hilang di Padang Arafah yang sangat luas dan padat.
“Jemaah yang risiko tinggi yang sudah kita sortir, yang berisiko hilang-hilangan, kita pisahkan ke hotel transit Safari Wukuf. Pada hari-H, jemaah tersebut akan kita bawa konvoi bus ke Arafah untuk wukuf ba’da Zuhur, lalu langsung dikembalikan ke hotel transit. Tujuannya supaya jemaah ini tidak hilang atau pergi ke mana-mana karena sering berhalusinasi,” tegas Agus.
Pendekatan ini terbukti efektif sejak diterapkan tahun 2023 dalam menekan angka kematian dan kasus kehilangan jemaah. Petugas layanan lansia juga dibekali kemampuan komunikasi psikologis untuk menangani jemaah yang mengalami disorientasi waktu dan medan, yang sering kali merasa masih berada di kampung halamannya di Indonesia meski sudah berada di Arab Saudi.
Selama di hotel transit, kolaborasi antara petugas lansia, tim medis (PKP2JH), dan pembimbing ibadah (Bimbad) akan diperketat. Tim Bimbad bertugas memandu doa di dalam bus konvoi agar aspek syar’i ibadah haji tetap terpenuhi meskipun jemaah tidak turun di tenda Arafah seperti jemaah sehat lainnya.
Hal ini diharapkan memberikan ketenangan bagi keluarga jemaah, khususnya dari wilayah Jawa Timur yang memiliki proporsi jemaah lansia cukup besar, bahwa orang tua mereka mendapatkan perawatan paripurna dari hari pertama hingga hari ke-65. [ian/aje]






