Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya) Amelia Margaretha Suprapto menciptakan boneka edukasi seksual interaktif untuk anak usia dini. Inovasi ini diperkenalkan pada Kelompok Belajar Sanggar Kreativitas Ubaya, Surabaya, Rabu (21/1/2026).
Boneka tersebut diberi nama Sentasi, singkatan dari Sentuhan Aman dan Tidak Aman Edukasi Dini. Sentasi dirancang sebagai media pembelajaran edukasi seksual bagi anak usia 3–6 tahun, dengan pendekatan bermain yang sederhana dan mudah dipahami.
Sentasi hadir dalam dua karakter, yakni Luca sebagai boneka anak laki-laki dan Luna sebagai boneka anak perempuan. Keduanya dilengkapi sensor sentuh di sejumlah bagian tubuh yang dikategorikan sebagai area terlarang, seperti wajah, dada, alat kelamin, dan pantat.
Ketika area tersebut disentuh, boneka akan mengeluarkan suara peringatan “Jangan sentuh!”. Fitur ini dimaksudkan untuk mengenalkan batasan sentuhan kepada anak sejak dini melalui respons langsung.
Amelia menjelaskan, gagasan pembuatan Sentasi berangkat dari masih tingginya kasus kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia. Di sisi lain, edukasi seksual masih kerap dianggap tabu oleh sebagian masyarakat.
“Padahal, edukasi seksual justru penting diberikan sejak usia dini sebagai upaya pencegahan dan perlindungan anak. Boneka ini saya rancang untuk membantu guru atau orang dewasa menyampaikan materi tersebut dengan lebih mudah,” kata Amelia.
Ia memilih bentuk boneka menyerupai manusia agar anak dapat mengenali bagian tubuh secara sederhana. Untuk meningkatkan interaksi, Sentasi juga dilengkapi pakaian lepas-pasang serta tiga ekspresi wajah magnetik, yakni senang, sedih, dan marah.
Selain boneka, Amelia menyertakan buku panduan guru yang berisi petunjuk penggunaan, materi edukasi seksual, serta contoh skenario bermain peran. Panduan ini untuk membantu proses pembelajaran agar lebih terarah.
Proses pembuatan Boneka Sentasi memakan waktu sekitar satu tahun. Amelia melakukan studi pustaka, observasi buku anak, serta wawancara dengan orang tua, psikolog anak, dan guru taman kanak-kanak untuk memastikan materi yang disampaikan sesuai kebutuhan anak.
Salah satu orang tua peserta edukasi, Bunga Lia, menilai pendekatan tersebut efektif. “Pendidikan seksual sejak dini memang penting. Dengan metode bermain seperti ini, anak lebih mudah memahami,” ujarnya.
Kepala Kelompok Belajar Sanggar Kreativitas Ubaya Shinta Oktaviani menyebut Boneka Sentasi membantu anak mengenali batasan diri. “Anak bisa belajar kapan harus menolak dan berani berbicara ketika merasa tidak aman,” katanya.
Boneka Sentasi merupakan proyek tugas akhir Amelia di Program Studi Desain dan Manajemen Produk FIK Ubaya. Karya ini juga ditampilkan dalam pameran tugas akhir GradeX yang digelar pada 23–25 Januari 2026. [ipl/kun]






