Pasuruan (beritajatim.com) – Kabupaten Pasuruan terus memantapkan posisinya sebagai sentra durian paling variatif di Jawa Timur dengan kekayaan plasma nutfah yang luar biasa. Dari wilayah pendakian Arjuno hingga lereng Bromo, ribuan pohon durian lokal menjadi tumpuan ekonomi masyarakat sekaligus identitas daerah.
Setiap sudut desa di Pasuruan memiliki karakteristik tanah yang mendukung terciptanya aroma dan rasa durian yang autentik. Kekhasan ini menjadikan Pasuruan bukan sekadar tempat singgah, melainkan tujuan utama bagi para pemburu buah eksotis ini.
Eksistensi Petani dan Ragam Jenis Durian Lokal Pasuruan
Jumadi, seorang petani gigih dari Desa Ambalsari, membuktikan bahwa durian lokal memiliki daya pikat yang tidak kalah dari varietas impor. Di kebunnya, ia merawat pohon-pohon yang menghasilkan buah dengan tekstur daging lembut dan rasa semanis susu.
Salah satu primadona yang ia kembangkan adalah Durian Susu, yang dikenal karena warna dagingnya yang putih bersih dan rasa yang sangat gurih. Selain itu, ada pula Durian Mentega yang memiliki ciri khas daging berwarna kuning kecokelatan dengan tekstur yang sangat legit.
“Kami punya banyak jenis, ada Durian Melati yang bijinya kecil sekali dan berwarna putih seperti bunga melati. Selain itu, Durian Kasmin dan Si Karim juga sangat diminati karena aromanya yang sangat kuat dan menusuk,” ungkap Jumadi.
Di kecamatan lain seperti Lumbang, terdapat varietas unggulan seperti Durian Silaron, Jeliteng, dan Sigetun yang masing-masing memiliki profil rasa berbeda. Sedangkan di wilayah Purwodadi, petani membudidayakan jenis Pasmanis, Mbaksari, Mas Gerbo, hingga durian Sampian yang legendaris.
Kecamatan Tutur juga tidak mau kalah dengan varian Andongsari, Supeno, Tumbu, Wangkit, dan Singgih yang tumbuh subur di udara sejuk. Keberagaman nama ini biasanya diambil dari nama petani pertama yang menemukan atau nama desa asal tempat durian tersebut dikembangkan.
Metode budidaya pun terus berkembang, di mana banyak petani kini mulai beralih menggunakan teknik stek untuk mempercepat masa produktif pohon. Meski memerlukan perawatan lebih intensif, teknik ini dianggap lebih menguntungkan karena petani tidak perlu menunggu belasan tahun untuk panen.
Strategi Pemerintah Daerah Menghadapi Tantangan Hama dan Pupuk
Pemerintah Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Ketahanan Pangan Perikanan dan Pertanian terus berupaya mendampingi 73 kelompok tani yang tersebar di wilayah sentra. Pendampingan ini menjadi krusial mengingat tantangan perubahan iklim yang seringkali mengganggu stabilitas kualitas buah.
Masalah utama yang dihadapi petani saat ini adalah serangan hama ulat penggerak buah yang sulit dideteksi dari luar kulit. Hal ini menjadi perhatian serius karena satu buah yang busuk di dalam dapat merusak reputasi seluruh hasil panen petani.
“Tahun 2025 lalu kami bekerja sama dengan tim periset dari BRIN untuk mengimplementasikan teknologi pengelolaan hama penggerak durian berbasis fenologi tumbuh dan bio ekologi. Harapannya, penggunaan teknologi ini bisa mengurangi kerugian petani secara signifikan dan berkelanjutan,” tutur Ririn Khuswati dari Kabid Pertanian.
Selain masalah hama, ketersediaan pupuk subsidi yang terbatas memaksa petani untuk lebih kreatif dalam mengolah limbah ternak. Penggunaan kotoran kambing dan sapi secara mandiri ternyata mampu menjaga kualitas rasa durian tetap alami tanpa terlalu banyak zat kimia.
Pemerintah daerah juga sedang memetakan potensi tiap kecamatan agar setiap varietas lokal memiliki perlindungan indikasi geografis. Hal ini dilakukan agar durian seperti jenis Kasmin dari Desa Kronto memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasar nasional.
Program penelitian yang berlangsung dari September hingga Desember 2025 lalu diharapkan menjadi titik balik kebangkitan pertanian durian Pasuruan. Melalui riset ini, para petani akan dibekali cara-cara modern dalam mendeteksi serangan ulat sebelum buah mencapai masa matang.
Dinamika Pedagang Durian
Eri Wibowo Hadiyani, pemilik Duren Jetak Pandaan, mengakui bahwa berbisnis durian memerlukan integritas tinggi karena barang yang dijual bersifat “tebakan”. Ia selalu memastikan setiap pelanggan mendapatkan pengalaman terbaik dengan sistem garansi ganti baru jika buah tidak layak konsumsi.
Di kiosnya, Eri menyediakan berbagai kelas durian mulai dari kelas premium seperti Musang King dan Ochee hingga durian lokal pilihan. Namun, ia mencatat bahwa mayoritas pelanggan setianya justru lebih menyukai durian lokal Pasuruan karena rasa yang lebih kompleks dan harga bersahabat.
“Tantangan kami sebagai pedagang adalah memberikan edukasi kepada pembeli bahwa cuaca hujan tinggi memang memengaruhi rasa buah. Kami rela menanggung rugi demi kepuasan pelanggan agar mereka tidak kapok membeli durian lokal kita,” ujar Eri.
Sementara itu, para pedagang eceran di pinggir jalan dan area wisata juga merasakan dampak dari fluktuasi harga yang sering berubah mendadak. Pada momen hari besar seperti Nataru, harga durian Montong bahkan sempat menembus angka Rp 95.000 per kilogram karena tingginya permintaan.
Penjual asongan yang menggunakan motor atau “rengkek” seringkali menjadi garda terdepan dalam mendistribusikan durian langsung dari desa ke kota. Meski persaingan ketat, mereka memiliki segmen pasar tersendiri yang mengincar harga borongan yang lebih miring.
Wawan, salah satu pedagang di Cheng Hoo, menceritakan bahwa sistem setoran harian membuat mereka harus bekerja ekstra keras setiap hari. Kejujuran menjadi modal utama agar para pembeli yang datang dari luar kota tidak merasa tertipu saat membeli oleh-oleh durian.
Ketegasan Kebijakan Kepala Daerah Demi Citra Wisata Pasuruan
Bupati Pasuruan, Rusdi Sutejo, mengambil langkah berani dengan menertibkan pedagang durian yang bermain curang di kawasan wisata religi Cheng Hoo. Langkah ini diambil setelah banyaknya keluhan wisatawan yang mendapatkan durian kosong atau busuk dari oknum tidak bertanggung jawab.
Bupati yang akrab disapa Mas Rusdi ini menegaskan bahwa kualitas layanan di tempat wisata harus dijaga demi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Ia tidak ingin popularitas durian Pasuruan hancur hanya karena perilaku segelintir pedagang yang ingin untung sesaat.
“Kita sedang menyiapkan DED untuk revitalisasi total kawasan Cheng Hoo agar lebih bersih, tertib, dan nyaman bagi pengunjung. Semua pedagang harus mengikuti standar yang ditetapkan agar wisatawan merasa aman belanja di sini,” tegas Mas Rusdi.
Bagi pemerintah daerah, durian bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan magnet pariwisata yang bisa menggerakkan roda ekonomi lintas sektor. Promosi yang gencar dilakukan bertujuan agar Durian Pasuruan sejajar dengan durian ternama dari daerah Bali maupun Riau.
Dukungan penuh dari pemerintah kabupaten ini diharapkan mampu memotivasi petani untuk terus menanam varietas lokal yang hampir punah. Dengan manajemen pasar yang lebih baik, durian Pasuruan siap menyambut masa depan sebagai ikon buah nusantara yang membanggakan. [ada/aje]







