Probolinggo (beritajatim.com) – Kepala Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid, menyampaikan seruan tegas kepada ribuan alumni santri untuk segera melakukan transformasi besar. Menghadapi dinamika ekonomi dan tantangan pasar bebas, alumni diminta tidak lagi sekadar berkutat pada ikatan emosional semata, melainkan harus bergerak menguasai jejaring fungsional di kancah global.
Pernyataan visioner tersebut disampaikan Kiai Hamid dalam acara Halaqoh Alumni lintas negara yang menjadi rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-77 dan Haul Masyayikh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
Halaqoh ini menjadi bukti nyata potensi global pesantren, dengan hadirnya perwakilan Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) dari seluruh nusantara, serta delegasi internasional dari Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Dalam paparannya, Kiai Hamid menyoroti tantangan zaman yang menuntut perubahan pola pikir. Pesantren yang secara tradisional memiliki kekuatan silaturahmi yang solid, kini harus mengonversi modal sosial tersebut menjadi jejaring yang terintegrasi dan profesional.
“Kita tidak cukup hanya membangun hubungan praktis berdasarkan kesamaan almamater. Kita harus menggunakan potensi yang ada di satuan-satuan daerah untuk menjadi sebuah jaringan besar yang tidak eksklusif, melainkan menjadi pijakan untuk masuk ke jejaring yang lebih luas,” tegas KH. Abdul Hamid Wahid di hadapan para peserta pada Sabtu (17/1/2026).
Visi ini menekankan agar para santri tidak terjebak dalam jago kandang, melainkan menggunakan basis komunitas alumni sebagai batu loncatan untuk berkompetisi dan berkolaborasi di level internasional.
Mengutip pesan dari pendiri pesantren, Kiai Hamid mengingatkan kembali hakikat kesuksesan seorang santri. Menurut beliau, keberhasilan bukan dinilai saat santri masih menimba ilmu di asrama, melainkan saat mereka kembali ke masyarakat dan mampu memegang teguh prinsip perjuangan.
“Alumni harus mampu mengambil peran, baik dalam mengawal masyarakat maupun melakukan transformasi positif, mulai dari lingkup terkecil hingga ruang yang lebih luas sesuai posisi masing-masing,” tambahnya.
KH. Hamid menegaskan bahwa pengabdian (khidmat) kepada masyarakat adalah manifestasi paling nyata dari pengabdian seorang hamba kepada Allah SWT.
Salah satu poin paling krusial yang disampaikan Kiai Hamid dan menjadi bekal penting bagi alumni yang terjun di dunia profesional adalah manajemen hubungan. Beliau memberikan resep agar kerja sama antar-alumni atau kerabat tidak berakhir dengan konflik akibat ketidakprofesionalan.
Kiai Hamid menekankan pentingnya memisahkan antara hubungan sosial (muasyarah) dan hubungan kerja atau bisnis (muamalah). “Bermuasyarahlah (bergaul) seperti orang dekat, tetapi bertamulah (bermuamalah) seperti orang asing,” pesan beliau mengutip kaidah fikih yang relevan.
Pesan ini mengandung makna bahwa dalam urusan bisnis, segala sesuatunya harus disepakati secara tegas, transparan, hitam di atas putih, dan akuntabel. Hal ini meneladani sifat Rasulullah SAW sebagai Al-Amin yang sangat menjaga amanah dalam bermuamalah sebelum diangkat menjadi rasul. Kedekatan personal tidak boleh melunturkan standar profesionalitas.
Menutup arahannya, Kiai Hamid menantang setiap pengurus daerah (P4NJ) untuk menerjemahkan soliditas alumni ke dalam wujud yang konkret, seperti pendirian yayasan atau lembaga usaha yang produktif.
Pihak Pondok Pesantren Nurul Jadid pun menyatakan komitmennya untuk hadir sebagai pembina dalam setiap inisiatif produktif tersebut, memastikan gerakan ekonomi alumni berjalan sesuai koridor syariah dan kemaslahatan.
“Ujung dari perjalanan kita di dunia adalah seberapa besar manfaat yang dapat kita berikan kepada sekitar. Saya berharap alumni tidak hanya diam memikirkan diri sendiri, tetapi menyumbang perubahan masyarakat menuju yang lebih baik,” pungkasnya. (dan/kun)






