Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Perbasi Jawa Timur, Grace Evi Ekawati, memastikan akan memanggil pihak sekolah serta pelatih basket SMAK St Louis 1 Surabaya pada Senin (19/1/2026). Pemanggilan ini dilakukan untuk mengklarifikasi pemberitaan yang ramai terkait dugaan kekerasan dalam proses latihan basket di sekolah tersebut.
Grace Evi mengaku baru mengetahui adanya dugaan kasus tersebut setelah dihubungi oleh lembaga swadaya masyarakat. Informasi itu membuatnya terkejut sehingga merasa perlu meminta penjelasan langsung dari semua pihak terkait.
“Memang pertama kali saya tahunya itu dari LSM yang menghubungi saya, saya kaget makanya saya ingin memanggil besok Senin ini, saya panggil dari pihak sekolah dan pelath,” ungkap wanita yang kerap disapa Mama Evi saat dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (16/1/2026).
Sebagai induk organisasi bola basket di Jawa Timur, Evi menegaskan Perbasi tidak ingin mengambil kesimpulan sepihak sebelum mendengar keterangan lengkap. Menurutnya, keputusan yang hanya bersandar pada satu sumber berisiko menimbulkan kekeliruan, terutama jika sudah menyangkut sanksi organisasi.
“Kami akan berkomunikasi dengan mereka, karena Perbasi Jatim hanya bisa mengeluarkan sanksi sebatas aturan federasi. Jika sampai ke ranah bukun sudah bukan kewenangan. Maka saya ingin tahu kebenaeannya karena memang kami mengecam adanya kekerasan,” ujarnya.
Evi menegaskan, dalam sistem pembinaan Perbasi tidak pernah diajarkan praktik kekerasan, terlebih terhadap siswa di lingkungan sekolah. “Kami PERBASI Jawa Timur mengecam keras tindakan dugaan kekerasan itu jika benar-benar terjadi. Dan memang kami mendapat laporan kasus dugaan kekerasan itu,” tegasnya.
Saat ini, Perbasi Jawa Timur masih menunggu bukti serta hasil investigasi yang dilakukan Divisi PPA Lembakum Indonesia sebagai dasar pengambilan sikap.
“Artinya kita tidak akan tinggal diam. Kita akan memberikan sanksi. Dan kita masih menunggu bukti dan hasil investigasi dari lembaga yang melaporkan kasus ini,” terangnya.
Evi menjelaskan, setelah bukti dan hasil investigasi diterima, Perbasi Jatim akan menggelar rapat untuk menentukan langkah serta sanksi yang akan dijatuhkan kepada pelatih yang diduga terlibat.
“Setelah mendapat bukti-bukti, kita akan lakukan meeting untuk menentukan sikap dan sanksi. Dan sanksi itu bisa skorsing 2 sampai 3 tahun hingga pencabutan lisensi. Tergantung tingkat keparahan yang dilakukan. Dan pencabutan lisensi itu sudah sanksi final,” tambahnya.
Sebelumnya, seorang pelatih basket SMAK St Louis 1 Surabaya diduga melakukan kekerasan terhadap siswa. Dugaan kekerasan tersebut tidak hanya bersifat verbal, tetapi juga disertai pemukulan.
Kasus ini mencuat setelah sejumlah siswa melaporkan dugaan kekerasan tersebut ke Lembakum Indonesia. Dalam laporannya, para siswa mengaku kerap mengalami tindakan kekerasan yang diduga dilakukan oleh pelatih basket berinisial IV. Dugaan kekerasan tersebut disebut terjadi berulang kali, terutama ketika siswa melakukan kesalahan dalam latihan basket. (way/kun)






