Bojonegoro (beritajatim.com) – Kondisi cuaca di Kabupaten Bojonegoro pada Selasa, 13 Januari 2026, diprakirakan relatif stabil sejak pagi hari. Berdasarkan laporan harian Pusdalops BPBD Bojonegoro yang mengacu pada data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca pagi ini didominasi kondisi berawan dengan suhu udara sekitar 26 derajat Celsius.
Pada pagi hari mulai pukul 07.00 WIB, angin bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan sekitar 5,4 kilometer per jam. Kelembapan udara terpantau cukup tinggi, mencapai 87 persen, yang membuat udara terasa lembap meski belum turun hujan.
Memasuki siang hari, masyarakat Bojonegoro perlu mewaspadai potensi hujan ringan. BMKG memprakirakan hujan ringan akan mengguyur sejumlah wilayah dengan suhu udara masih bertahan di kisaran 26 derajat Celsius. Arah angin bergeser dari barat dengan kecepatan meningkat hingga 9,6 kilometer per jam, sementara kelembapan udara turun menjadi sekitar 79 persen.
Pada malam hari, kondisi cuaca kembali berawan. Suhu udara diprakirakan menurun menjadi 24 derajat Celsius dengan kelembapan meningkat hingga 95 persen. Angin kembali bertiup dari arah barat daya dengan kecepatan sekitar 5,7 kilometer per jam. Sementara itu, pada dini hari cuaca diperkirakan cerah berawan dengan suhu stabil di angka 24 derajat Celsius dan kelembapan mencapai 96 persen.
Pantauan visual di sejumlah wilayah menunjukkan kondisi yang relatif seragam. Wilayah Bojonegoro kota, Bojonegoro selatan, timur, hingga barat terpantau cerah berawan. Hingga laporan ini disampaikan, tidak terdapat kejadian bencana di wilayah Kabupaten Bojonegoro.
Sementara itu, hasil pemantauan debit Sungai Bengawan Solo menunjukkan kondisi masih aman. Tinggi muka air (TMA) tercatat berada di angka 9,33 meter dengan status normal, meski tren debit air terpantau mengalami kenaikan.
Di sisi lain, BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menyampaikan bahwa dalam periode 11 hingga 20 Januari 2026, sejumlah wilayah di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Bojonegoro, berpotensi terdampak cuaca ekstrem.
“Sebagian besar wilayah Jawa Timur telah memasuki puncak musim hujan. Dalam 10 hari ke depan diprakirakan terjadi peningkatan kejadian cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat, banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga puting beliung,” ujar Taufiq, Senin (12/1/2026).
BMKG mencatat potensi cuaca ekstrem tersebut tidak hanya terjadi di Bojonegoro, tetapi juga meluas ke sejumlah daerah lain seperti Jombang, Tuban, Lamongan, Ngawi, Nganjuk, Madiun, Kediri, wilayah Madura, serta kawasan tapal kuda. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini dan meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi dampak yang ditimbulkan. [lus/aje]






