Surabaya (beritajatim.com) – Fenomena akun TikTok dengan nama nyeleneh bernuansa prostitusi sedang menjadi perbincangan hangat warganet. Sejumlah akun diduga memanfaatkan nama daerah di Jawa Timur (Jatim) untuk menarik perhatian, salah satunya akun bernama “Jasa Kwentu Ponorogo”.
Keberadaan akun-akun tersebut dinilai meresahkan karena kontennya mengarah pada obrolan dewasa hingga dugaan praktik prostitusi terselubung di media sosial.
Kata “Kwentu” sendiri disebut berasal dari pelafalan kata kentu dalam bahasa Jawa, yang bermakna bersetubuh. Istilah tersebut kemudian dipoles seolah menjadi nama jasa tertentu. Dalam beberapa unggahan, akun-akun ini secara blak-blakan menawarkan “teman menemani”, “staycation”, hingga narasi yang mengarah pada pemuasan hasrat seksual. Konten yang disajikan umumnya berupa video singkat dengan caption dan balasan komentar bernada sugestif.
Tak hanya di Ponorogo, sejumlah daerah lain di Jawa Timur juga turut dicatut, do antaranya seperti, “Jasa Kwentu Gresik”, “Jasa Kwentu Surabaya”, “Jasa Kwentu Batu”, “Jasa Kwentu Mojokerto”, hingga “Jasa Kwentu Magetan”. Bahkan, ada akun yang secara terang-terangan menawarkan jasa tak pantas tersebut.
Salah satu unggahan yang menuai sorotan berbunyi, “Ready menyediakan jasa staycation/memuaskan. Ready 24 jam Gresik Kota.” Kalimat tersebut dinilai tidak lagi bersifat candaan, melainkan sudah mengarah pada penawaran layanan yang melanggar norma sosial dan berpotensi melanggar hukum.
Selain menggunakan istilah “Kwentu”, warganet juga menemukan nama akun lain dengan diksi serupa, seperti JasaNgntdd_greskot hingga yang terbaru Jasa Iclik Menganti. Penggunaan istilah-istilah tersebut dinilai sengaja disamarkan agar lolos dari pemantauan, namun tetap dipahami oleh kalangan tertentu.
Banyak warganet yang mengaku resah, salah satunya akun berinisial (et) nunu***. Ia mengaku awalnya mengira akun-akun tersebut hanya bercanda. Namun setelah membaca kolom komentar, ia justru merasa khawatir.
“Baru kemarin banget baca akun jasa itu, kupikir cuma becanda. Tapi setelah baca-baca komennya, kok pemilik akun selalu balas dengan kalimat ‘Privasi aman terjaga kak’ atau ‘Privasi terjamin aman kak’. Meresahkan sekali. Kok bisa-bisanya buka jasa seperti itu,” tulisnya.
Kekhawatiran lain juga datang dari warganet yang menilai akun-akun tersebut berpotensi menjadi sarana penyebaran penyakit menular seksual. Salah satu komentar menyebut secara tegas, “Sarana penyebar HIV.”
Selain persoalan moral dan kesehatan, pencatutan nama daerah juga dinilai merugikan citra wilayah yang disebutkan. Ponorogo, Gresik, maupun daerah lain di Jawa Timur memiliki identitas budaya dan sosial yang kuat. Penggunaan nama daerah untuk konten bernuansa asusila dianggap mencoreng nama baik masyarakat setempat.
Sejumlah warganet pun mengimbau agar media sosial digunakan secara positif dan bijak. Meski sebagian pihak mungkin menganggapnya sekadar candaan atau strategi mencari popularitas, konten semacam ini tetap berdampak luas, terutama bagi generasi muda dan citra daerah. (fyi/but)






