Caracas (beritajatim.com) – Pemerintah Venezuela secara tegas membantah klaim Amerika Serikat terkait adanya kesiapan kerja sama dengan Washington setelah penangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada Sabtu 3 Januari 2026.
Sejumlah pejabat tinggi Venezuela justru tampil kompak mengecam operasi militer tersebut dan menegaskan dukungan penuh kepada Maduro.
Beberapa jam setelah penangkapan itu, Wakil Presiden Delcy Rodríguez, yang ditunjuk sebagai presiden sementara oleh Mahkamah Agung Venezuela, muncul di televisi nasional bersama tokoh-tokoh inti pemerintahan.
Hadir mendampinginya Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello, Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López, serta Ketua Majelis Nasional Jorge Rodríguez.
“Hanya ada satu presiden di Venezuela, dan namanya adalah Nicolás Maduro Moros,” tegas Delcy Rodríguez dalam pernyataan resminya, sembari menuntut pembebasan segera pemimpin Venezuela tersebut.
Struktur Kekuasaan Pemerintah Masih Solid
Kemunculan bersama para elite tersebut dinilai sebagai sinyal kuat bahwa struktur kekuasaan Venezuela tetap utuh.
Para analis menyebut lingkaran inti pemerintahan yang telah berkuasa selama lebih dari satu dekade itu masih mengandalkan jaringan loyalis sipil dan militer, termasuk lembaga keamanan negara.
Dalam struktur tersebut, Delcy Rodríguez dan Jorge Rodríguez merepresentasikan poros sipil, sementara Cabello dan Padrino López menjadi figur kunci dari sayap militer.
Diosdado Cabello bahkan muncul pada dini hari mengenakan rompi taktis dan helm, dikelilingi aparat keamanan bersenjata. Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan percaya kepada kepemimpinan nasional.
“Di sini, persatuan kekuatan revolusioner lebih dari terjamin,” ujar Cabello dalam pesan audio kepada publik.
Namun, Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya mencatat bahwa badan intelijen yang berada di bawah kendali Cabello terlibat dalam kejahatan terhadap kemanusiaan sebagai bagian dari upaya sistematis menekan oposisi politik.
Respons Publik Terbelah
Di tengah situasi politik yang memanas, televisi nasional Venezuela terus menayangkan propaganda pro-Maduro, termasuk siaran langsung aksi massa pendukung pemerintah di Caracas.
Dalam salah satu demonstrasi, Wali Kota Caracas Carmen Meléndez terlihat bergabung dengan massa yang meneriakkan yel-yel, “Maduro bertahan, rakyat bangkit!”
Sejumlah anggota milisi sipil bersenjata juga turun ke jalan-jalan di wilayah yang dikenal sebagai basis kuat partai penguasa.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa Delcy Rodríguez telah menyampaikan pesan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dengan mengatakan, “Kami akan melakukan apa pun yang Anda butuhkan.” Klaim tersebut secara terbuka bertentangan dengan pernyataan publik Rodríguez di dalam negeri.
Trump juga menepis peran tokoh oposisi María Corina Machado, peraih Hadiah Nobel Perdamaian 2025, dengan menyatakan bahwa ia tidak memiliki dukungan yang cukup untuk memimpin Venezuela.
Militer Tegaskan Dukungan
Militer Venezuela, yang selama ini kerap berperan sebagai penentu dalam konflik politik nasional, menyatakan dukungan kepada Delcy Rodríguez sebagai presiden sementara.
Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López menegaskan sikap angkatan bersenjata menghadapi tekanan eksternal.
“Angkatan bersenjata Venezuela bersatu dan kohesif dalam menghadapi agresi imperialis,” kata Padrino dalam pernyataan resminya.
Situasi politik Venezuela kini berada dalam fase krusial, dengan ketegangan antara tekanan internasional dan soliditas elite domestik yang masih bertahan kuat. (berbagai sumber/ted)






