Jember (beritajatim.com) – Andra Purwadi, seorang peternak difabel yang menangkar induk ayam di Desa Rejoagung, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, Jawa Timur, memanfaatkan limbah Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk pakan.
Andra sudah memulai usaha penangkaran ini sejak 2021. Saat ini dia beternak 150 ekor induk ayam kampung unggul. “Telurnya kami tetaskan dan bibitnya kami jual. Bisa buat ayam petelur, bisa buat pedaging,” katanya, Jumat (26/12/2025).
Sebagian bibit ayam kampung ini dijual secara daring ke Kalimantan, Riau, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Ide memanfaatkan limbah MBG muncul saat Andra meihat sebagian makanan tidak dihabiskan oleh para siswa. “Sementara sisa makanan itu mengandung protein dan gizi tinggi. Biasanya saya pakai limbah rumah tangga,” katanya.
Andra pun akhirnya berinisiatif mendatangi tiga dapur di Manggisan dan Rejoagung untuk meminta limbah MBG dan bisa membawa pulang setidaknya satu kuintal sisa makanan. “Semua sisa makanan kita lebur jadi halus, kemudian kami tambah dedak untuk fermentasi,” katanya.
Limbah itu diubah menjadi pelet. Dengan dijadikan pelet, pakan itu bisa bertahan hingga satu bulan. “Cuma kendalanya adalah pembuatan saat musim hujan. Penjemurannya susah,” kata Andra.
Andra juga belum bisa memproduksi dalam jumlah besar. Mesin pengolah limbahnya hanya bisa memproduksi 50 kilogram limbah per jam. “Itu mesin buat menghancurkan daging dan juga buat peletnya. Jadi satu mesin buat kan kecil kapasitasnya,” katanya.
Sehari Andra hanya bisa mengolah 1,5-2 kuintal limbah. “Dua kuintal menghasilkan satu kuintal pelet,” katanya.
Namun pengolahan limbah harus cepat dilakukan. “Jika menunggu terlalu lama bisa membusuk dan mendatangkan lalat, Malah jadi masalah,” kata Andra.
Andra menguji coba pakan hasil limbah MBG itu pada ternak bebek. “Kalau ia agak mencret berarti kadar proteinnya ketinggian. Berati saya harus tambah dedaknya. Begitu seterusnya,” katanya. Uji coba ini dilakukan untuk memperoleh pakan yang sesuai dengan menggunakan kotoran ternak sebagai patokan.
Dengan menggunakan limbah MBG, Andra bisa menghemat ongkos produksi. “Ongkos pakan tidak sampai Rp 2.500 per kilogram. Sementara pakan produk pabrik bisa Rp 10 ribu per kilo,” katanya.
Andra mengajarkan cara pembuatan pakan dari limbah MBG ini kepada peternak yang menjadi mitranya. “Biar peternak cepat berkembang,” katanya. [wir]






