Surabaya (beritajatim.com) – Pagi belum sepenuhnya terang ketika Triyas Duwi Winarti menyalakan motornya.
Helm terpasang rapi, ponsel di dashboard menyala menunggu order masuk. Di balik rutinitas itu, ada cerita panjang tentang seorang ibu yang memilih bertahan, meski hidup memaksanya berjalan sendirian.
Triyas adalah satu dari banyak pengemudi perempuan Maxim di Jawa Timur yang setiap hari berjibaku di jalanan.
Setelah bercerai, ia memikul peran sebagai tulang punggung keluarga. Dua anak dan seorang ibu sepenuhnya bergantung pada penghasilannya sebagai pengemudi online.
“Setelah cerai, semua saya tanggung sendiri. Anak-anak dan ibu saya bergantung sama saya, jadi mau tidak mau saya harus kuat dan terus kerja,” tutur Triyas dengan suara pelan, namun penuh keteguhan.
Kisah Triyas menjadi gambaran nyata ketangguhan para ibu pengemudi. Dalam rangka memperingati Hari Ibu, Maxim Indonesia memberikan apresiasi khusus kepada para pengemudi perempuan di berbagai kota di Jawa Timur, mulai Surabaya, Malang, Kediri, hingga Madiun. Apresiasi itu diwujudkan lewat pembagian bunga, voucher, serta merchandise eksklusif.
Bagi sebagian orang, hadiah tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi para pengemudi perempuan, perhatian itu terasa sangat berarti.
Cerita lain datang dari Rastiti Ardina. Tiga tahun lalu, hidupnya berubah setelah perceraiannya. Sejak saat itu, Rastiti harus membagi waktu antara menjadi ibu dan pencari nafkah. Siang hari ia bekerja mengantar penumpang, malam hari ia kembali keluar rumah setelah memastikan kedua anaknya terlelap.
“Kalau anak-anak sudah tidur, baru saya bisa keluar lagi. Capek pasti, tapi ini satu-satunya cara supaya kebutuhan rumah tetap jalan,” ungkap Rastiti.
Jalanan malam yang lengang, rasa lelah yang menumpuk, hingga kekhawatiran sebagai seorang ibu kerap ia pendam sendiri. Namun ia tetap melaju, demi masa depan anak-anaknya.
Perhatian dari Maxim di momen Hari Ibu ini menjadi penyemangat tersendiri. Bagi Rastiti, apresiasi tersebut memberi rasa bahwa perjuangannya tidak sepenuhnya luput dari perhatian.
“Kadang rasanya berat, tapi kalau ada perhatian seperti ini jadi ngerasa nggak sendirian,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Maxim ingin menyampaikan penghormatan kepada para pengemudi perempuan yang selama ini berperan besar dalam menopang ekonomi keluarga. Mereka bukan sekadar mitra pengemudi, melainkan ibu-ibu tangguh yang setiap hari mempertaruhkan tenaga, waktu, dan perasaan di jalan.
Momentum Hari Ibu pun menjadi pengingat bahwa di balik setiap perjalanan, ada kisah tentang cinta seorang ibu, keteguhan hati, dan keberanian untuk terus melangkah, meski hidup tak selalu memberi pilihan mudah. (ted)






