Pasuruan (beritajatim.com) – Petani sayur di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, tengah menghadapi tekanan berat akibat kelangkaan pupuk dan turunnya harga jual hasil panen. Kondisi ini dirasakan semakin memberatkan menjelang Natal dan Tahun Baru yang biasanya menjadi masa panen menguntungkan.
Keluhan tersebut dirasakan hampir seluruh petani di kawasan lereng Bromo. Mereka menilai situasi dua tahun terakhir membuat biaya produksi meningkat, sementara pendapatan justru menurun.
Eko Purwanto, petani asal Desa Podokoyo, mengatakan pupuk subsidi sudah lama tidak masuk ke wilayah Tosari. “Sekalipun ada pupuk, harganya mahal, bisa Rp250 ribu sampai Rp350 ribu per sak,” ujarnya.
Selain pupuk, petani juga menghadapi anjloknya harga berbagai komoditas sayuran. Harga sawi, kentang, hingga bawang prei disebut jauh dari harga normal akhir tahun.
Yoga, petani muda Desa Podokoyo, menyebut penurunan harga terjadi hampir di semua jenis sayuran. “Sawi bulat sekarang hanya Rp2.000 per kilo, kentang turun jadi sekitar Rp6.500, padahal biasanya jauh lebih tinggi,” katanya.
Para petani menilai kondisi tersebut di luar kebiasaan karena akhir tahun biasanya harga cenderung stabil. Tahun ini, melimpahnya pasokan dan hambatan distribusi diduga memperparah keadaan.
Curah hujan tinggi juga menjadi tantangan tersendiri bagi petani kentang. Tanaman kentang rentan rusak sehingga hasil panen menurun drastis.
Eko mengaku hasil panen tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. “Hasil panen sedikit, tapi harga malah anjlok, mau tidak mau ya disyukuri,” ucapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Isa, petani asal Desa Wonokitri. “Anjloknya harga sayuran tahun ini paling parah,” ujarnya singkat.
Para petani berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap kondisi tersebut. Mereka meminta pupuk subsidi kembali disalurkan agar beban produksi bisa ditekan dan usaha tani tetap bertahan. [ada/aje]






