Jember (beritajatim.com) – Banjir yang mengepung rumah-rumah yang dihuni 1.428 keluarga di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (15/12/2025), diakibatkan ulah pengembang perumahan yang tak mematuhi aturan.
Tudingan ini dilontarkan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jember Achmad Imam Fauzi, Selasa (16/12/2025). “Setelah melihat kondisi lapang, ini bukan (karena) Tuhan yang murka. Tapi hak sungai untuk melekuk dihalangi kerakusan developer,” katanya.
Banjir yang terjadi saat ini, menurut Fauzi, dikarenakan sungai ‘tengah mengambil hak’ aliran yang terhambat pengembangan perumahan. “Yang jadi korban masyarakat yang menggunakan kontrak bisnis dengan developer,” kata Fauzi.
Fauzi menuding pengembang perumahan telah serakah mengambil alih fungsi sungai. “Atas dalih perumahan menghalalkan sembarang cara, dan itu cara-cara biadab. Tulis besar-besar itu,” katanya.
Fauzi menegaskan komitmen Pemkab Jember untuk mengembalikan fungsi sungai yang telah disalahgunakan pengembang perumahan agar sesuai aturan. “Akan kami tertibkan selanjutnya,” katanya.
Soal sanksi kepada pengembang perumahan yang melanggar aturan, Fauzi berjanji akan segera dikaji. “Pasti hak sungai akan kami kembalikan. Ini sesuai keberpihakan Gus Bupati: pada rakyat kecil kita peduli,” katanya.
Soal strategi penataan, menurut Fauzi, akan dipikirkan lebih lanjur. “Kami akan lihat detailnya, perizinannya mulai tahun berapa. Nanti dikaji dulu oleh tim kecil yang dibentuk bupati. Tapi prinsipnya hak sungai untuk melekuk akan kami kembalikan,” katanya.
Saat ini, menurut Fauzi, Pemkab Jember memprioritaskan penyelamatan warga korban banjir. “Persoalan business to business nanti akan kita selesaikan. Kita lihat bagaimana kontrak kerjanya. Jadi itu yang dilakukan,” katanya.
Sebelumnya, Bupati Muhammad Fawait sudah meninjau lokasi banjir pada Senin malam kemarin. “Ada satu (jembatan yang rusak akibat banjir), yakni di wilayah Patemon. Kami akan masukkan dalam perencanaan pada Januari 2026. Mudah-mudahan Januari-Februari bisa dibikin kembali,” katanya.
Sementara itu, lanjut Fawait, untuk langkah awal Pemkab Jember akan menangani kondisi darurat terlebih dulu. “Nanti baru kami percepat pembangunan,” katanya.
Informasi terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jember, banjir terjadi di 24 lokasi yang tersebar di 18 desa dan kelurahan, delapan kecamatan. Sebanyak 1.428 keluarga terdampak.
Lima rumah rusak ringan, satu rusak sedang, dan satu rusak berat. Sebuah musala rusak sedang. Tiga jembatan rusak berat dan satu jembatan rusak ringan. [wir]






