Bojonegoro (beritajatim.com) – Rencana pembangunan pabrik Bioetanol berskala nasional di Bojonegoro mendapat sorotan kritis dari pegiat lingkungan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Timur menyatakan proyek yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) ini berisiko memperberat beban ekologi Pulau Jawa.
Direktur Eksekutif Walhi Jawa Timur, Pradipta Indra, mengungkapkan kepadatan penduduk di Jawa yang mencapai lebih dari separuh populasi Indonesia telah menciptakan tekanan lingkungan yang tinggi. Karena itu, menurutnya, setiap pembangunan besar seperti pabrik bioetanol wajib dikaji dengan sangat hati-hati.
“Daya dukung lingkungan hidup di Jawa sudah sangat terbatas. Proyek bioetanol sebagai PSN di Bojonegoro harus benar-benar mempertimbangkan dampak ekologisnya,” tegas Pradipta, Minggu (14/12/2025).
Fokus persoalan tertuju pada rencana penggunaan sekitar 5.130 hektare kawasan hutan produksi untuk proyek ini. Walhi menegaskan, status hutan produksi tidak menghilangkan fungsi ekologis kawasan tersebut sebagai daerah tangkapan air, habitat satwa, dan penopang kehidupan masyarakat lokal.
“Alih fungsi hutan, jenis apapun, akan meningkatkan kerentanan wilayah dan potensi bencana hidrometeorologi,” jelas Indra.
Lebih lanjut, Walhi mengkritisi pola pelaksanaan PSN yang dianggap sering mengesampingkan kajian lingkungan hidup yang mendalam. Kekhawatiran utama adalah pemenuhan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) yang dinilai kerap terabaikan.
“Dalam banyak kasus, PSN cenderung melangkahi aturan. Amdal sebagai alat ukur daya dukung lingkungan dan potensi risiko sering tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.
Proyek yang akan menggunakan bahan baku seperti jagung dan sorgum ini juga dikhawatirkan mengubah karakter lahan. Tanaman semusim dinilai tidak memiliki kemampuan menyerap air sebaik pepohonan hutan, sehingga berpotensi memicu banjir dan memperparah kekeringan di Bojonegoro yang sudah rawan.
“Hilangnya hutan dapat memperburuk kerentanan Bojonegoro terhadap bencana kekeringan. Negara harus belajar dari bencana ekologis di daerah lain akibat kerusakan hutan,” pungkas Pradipta.
Diketahui, pembangunan pabrik bioetanol di Bojonegoro dengan investasi mencapai Rp22,8 triliun ditargetkan dimulai pada 2027. Proyek ini akan memanfaatkan pasokan gas dari Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) serta lahan yang disiapkan Perhutani. [lus/aje]






