Surabaya (beritajatim.com) – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya membuka ruang kampusnya bagi ratusan lansia lintas agama dalam kegiatan Senam Lansia Sehat yang digelar Komunitas Coffee Morning bersama Senam Lansia Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela.
Kegiatan ini berlangsung di Gedung Graha Widya Untag Surabaya dan menjadi pertemuan warga senior dari beragam latar belakang gereja dan komunitas.
Peserta datang dari sejumlah gereja Katolik di Surabaya, antara lain Santa Maria Tak Bercela, Hati Kudus Yesus, Salib Suci, dan Kristus Raja, serta anggota Komunitas Coffee Morning lintas iman. Aktivitas olahraga bersama ini dimanfaatkan sebagai ruang bertemu, bergerak, dan berinteraksi dalam suasana terbuka.
Ketua Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, J. Subekti, mengatakan dukungan kampus diberikan sebagai bagian dari komitmen Untag Surabaya dalam membangun relasi yang inklusif dengan masyarakat.
Menurutnya, nilai kebhinekaan tidak cukup diajarkan di ruang kelas, tetapi perlu dihadirkan dalam praktik nyata. Karena itu, kampus dibuka untuk kegiatan komunitas yang membawa dampak positif.
“YPTA Surabaya dan Untag Surabaya merupakan lembaga pendidikan dengan karakter nasionalis. Nilai kebhinekaan ditanamkan dalam praktik nyata,” kata Subekti, Minggu (14/12/2025).
Ia menegaskan, langkah tersebut sejalan dengan arah Untag Surabaya menuju World Class University yang tidak hanya menekankan capaian akademik dan riset, tetapi juga kepekaan sosial.
Kampus, kata dia, harus berfungsi sebagai ruang bersama yang ramah dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk kelompok lanjut usia.
Subekti menambahkan, peringatan Hari Ibu melalui kegiatan senam lansia menjadi pengingat pentingnya peran orang tua dalam kehidupan sosial.
Baginya, lansia tidak semata membutuhkan perhatian kesehatan, tetapi juga ruang untuk tetap aktif, dihargai, dan terlibat dalam kegiatan produktif.
Selain penyediaan fasilitas, YPTA Surabaya juga menjalankan program sosial lain, salah satunya pemberian beasiswa rutin bagi pemuda dari berbagai unsur.
Program tersebut ditujukan untuk memperluas akses pendidikan tinggi yang adil dan inklusif, sekaligus memperkuat posisi Untag Surabaya sebagai kampus yang terbuka bagi semua kalangan.
Ketua Komunitas Coffee Morning, Hari Soeskandhi, menyebut komunitasnya secara rutin menggelar kegiatan olahraga dan kebersamaan setiap akhir pekan. Komunitas ini terbuka bagi siapa pun tanpa membedakan latar belakang agama maupun sosial.
Pemilihan Untag Surabaya sebagai lokasi kegiatan, menurut Hari, didasari kesamaan nilai terkait nasionalisme dan keterbukaan. Kolaborasi ini juga menjadi kerja sama perdana komunitasnya dengan Untag Surabaya sejak berdiri pada Januari 2022.
Salah satu peserta, Suratmi (70), mengaku senang bisa berolahraga di lingkungan kampus. Ia merasa diterima dan dihargai, sekaligus mendapatkan pengalaman baru yang menyenangkan.
“Rasanya kami dihargai dan diterima. Ini pengalaman yang menyenangkan,” tuturnya.
Kegiatan ini menjadi contoh keterlibatan kampus dalam kehidupan sosial masyarakat. Untag Surabaya menempatkan diri tidak hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga ruang publik yang inklusif, sejalan dengan upaya membangun World Class University yang humanis dan membumi. [ipl/aje]






