Mojokerto (beritajatim.com) – Indeks Fluktuasi Harga (IFH) Kabupaten Mojokertofluktflukf pada bulan November 2025 tercatat sebesar 0,06 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga komoditas secara umum, namun masih dalam kategori terkendali dibandingkan tren inflasi regional.
Pada periode yang sama, seluruh 11 kabupaten/kota IHK di Jawa Timur mengalami inflasi, sementara inflasi Jawa Timur dan nasional berada pada level 0,17 persen. Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi.
“Kondisi IFH Kabupaten Mojokerto pada November berada di angka 0,06 persen, dan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga masih relatif stabil. Tekanan inflasi di daerah kita lebih rendah dibandingkan Jawa Timur maupun nasional,” ungkapnya, Selasa (9/12/2025).
IFH merupakan salah satu indikator penting dalam memantau gejolak harga yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. Bambang menjelaskan bahwa perhitungan fluktuasi harga dilakukan melalui pemantauan 357 komoditas yang dikelompokkan ke dalam 11 kelompok pengeluaran dan 39 subkelompok.
[irp posts=”1449451″ ]
“Pemantauan ini dilakukan secara rutin untuk memetakan sektor mana yang paling berkontribusi terhadap gejolak harga di pasar. Dengan cakupan komoditas yang luas, mulai dari makanan, pakaian, kesehatan, hingga perawatan pribadi. Bappeda bersama TPID dapat mengidentifikasi tekanan harga secara spesifik dan merumuskan langkah antisipatif,” jelasnya.
Adapun kelompok pengeluaran yang dipantau meliputi, makanan, minuman, dan tembakau (99 komoditas makanan, 6 minuman beralkohol, 3 rokok dan tembakau). Pakaian dan alas kaki, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga, kesehatan.
“Juga informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Rekreasi, olahraga, dan budaya, pendidikan, penyediaan makanan dan minuman/restoran serta perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok makanan dan minuman tetap menjadi penyumbang utama pergerakan harga, meskipun fluktuasinya pada November masih pada batas yang aman,” ujarnya.
Memasuki akhir tahun, Bambang menegaskan bahwa Bappeda bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Mojokerto sudah menyiapkan skema mitigasi terhadap potensi kenaikan harga pada momen Natal dan Tahun Baru. Menurutnya, biasanya ada pola seasonal yang menyebabkan beberapa komoditas naik pada akhir tahun.
“Kami sudah koordinasi dengan OPD terkait untuk memastikan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Kami ingin memastikan masyarakat Mojokerto dapat menghadapi akhir tahun dengan kondisi harga yang wajar. IFH 0,06 persen ini menjadi sinyal positif, namun tetap perlu diwaspadai ke depan,” pungkasnya. [tin/aje]






