Surabaya (beritajatim.com) – Seorang dosen Universitas Dinamika (Undika) Surabaya menerapkan teknologi budidaya ikan dalam ember (budikdamber) berbasis Internet of Things (IoT) di Desa Sidorame, Gunungan, Dawar Blandong, Mojokerto.
Program ini menyasar pemberdayaan ibu-ibu PKK untuk mendorong produktivitas ekonomi rumah tangga berbasis teknologi.
Inisiator program, Weny Indah Kusumawati, dosen Teknik Komputer Undika, mengatakan sistem budikdamber berbasis IoT memungkinkan pengelolaan air dan pakan ikan dilakukan secara otomatis. Teknologi ini dirancang agar mudah diterapkan di lingkungan rumah tangga.
“Sistem ini mengontrol kondisi air dan pakan secara otomatis sehingga lebih efisien,” kata Weny, Jumat (5/12/2025).
Perangkat yang digunakan meliputi mikrokontroler ESP32, sensor suhu dan ultrasonik, modul relay, serta aplikasi pemantauan berbasis Android.
Seluruh sistem bekerja mengatur penggantian air, sirkulasi, dan pemberian pakan tanpa harus dilakukan secara manual. Dengan sistem ini, risiko kematian ikan dapat ditekan karena kondisi kolam lebih terkontrol.
Weny menilai PKK memiliki ketelatenan dalam pekerjaan yang membutuhkan konsistensi. Dengan dukungan otomatisasi, aktivitas perawatan ikan tidak lagi memakan banyak waktu dan tenaga.
“Perempuan tetap bisa produktif tanpa harus menghabiskan energi berlebihan,” ujarnya.
Kepala Desa Gunungan, Sadi, menyebut program ini sejalan dengan arah pengembangan desanya sebagai desa digital. Ia menilai pemanfaatan teknologi tidak hanya penting untuk layanan administrasi, tetapi juga untuk menggerakkan ekonomi warga.
“Masyarakat bisa memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif, termasuk perikanan,” kata Sadi.
Manfaat program juga dirasakan langsung oleh anggota PKK. Perwakilan PKK Sidorame, Nur Halimah, menyebut budikdamber berbasis IoT memberi alternatif penghasilan selain bertani. Panen lele yang dilakukan setelah dua bulan perawatan dinilai cukup menjanjikan. “Ini bisa menambah pemasukan keluarga,” ujarnya.
Mayoritas warga Desa Sidorame bekerja di sektor pertanian seperti padi, cabai, jagung, dan tembakau. Halimah berharap teknologi serupa dapat diterapkan untuk pengairan dan pemupukan tanaman secara otomatis agar pekerjaan di sawah menjadi lebih ringan.
Program ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim pelaksana berharap pendanaan lanjutan dapat memperluas penerapan teknologi IoT ke sektor pertanian dengan skala yang lebih besar. [ipl/ian]






