Surabaya (beritajatim.com) – Provinsi Jawa Timur meraih penghargaan Program Kampung Iklim (ProKlim) Lestari dan Proklim utama terbanyak di Indonesia Tahun 2025. Penghargaan ini diberikan atas komitmen Pemprov Jatim menjaga kelestarian alam.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menyebut ProKlim diharapkan bisa terus memperkuat peran masyarakat sebagai garda terdepan dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
“Tidak mudah bagi sebuah komunitas untuk meraih predikat ProKlim , karena yang kita kehendaki bukan hanya penghargaan, tetapi aksi nyata yang benar-benar menurunkan emisi gas rumah kaca dan meningkatkan ketahananan masyarakat,” kata Hanif.
Hanif mengatakan ProKlim telah berkembang dari sebuah program tingkat kampung menjadi gerakan komunitas nasional. Dan Pada momentum COP30 di Belém, Brasil, dunia kembali menegaskan bahwa perubahan iklim tidak dapat diselesaikan hanya dengan negosiasi, tetapi dengan kerja konkret di tingkat tapak.
“Melalui ProKlim, Indonesia sudah melangkah ke arah itu. Saya berharap ke depan, komunitas ProKlim dapat memperoleh sertifikat pengurangan emisi yang memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.
“Inilah bentuk penghargaan yang tidak hanya simbolik, tetapi memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.,mulai dari pengelolaan sampah, penggunaan energi terbarukan, konservasi lahan, hingga penanaman pohon seluruh aksi ini memberikan kontribusi nyata untuk masa depan iklim Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi kerja keras seluruh insan masyarakat Jawa Timur yang tak lelah menjaga kelestarian alam di Jawa Timur.
Menurutnya, keberhasilan tidak terlepas dari sinergi dan gotong-royong antara masyarakat, pemerintah serta stakeholder dalam menciptakan lingkungan yang lebih baik.
“Kami sangat bangga dan mengucapkan Terima kasih kepada seluruh masyarakat Jawa Timur dan seluruh jajaran yang terlibat baik dari rw dusun desa kelurahan serta komunitas dan dinas yang mendukung keberlanjutan program karena bekerja keras menjadikan wilayah yang peduli lingkungan. Penghargaan ini merupakan motivasi bagi kita semua untuk terus menjaga, meningkatkan dan merawat kualitas lingkungan hidup,” kata Khofifah.
Sejauh ini, kata Khofifah, berbagai pihak menanggulangi perubahan iklim dengan mengurangi emisi gas rumah kaca, salah satunya melalui program penanaman tanaman sebagai sumber cadangan carbon. Cara ini penting untuk mengurangi emisi, menghasilkan oksigen lebih banyak, dan menekan dampak perubahan iklim dan mitigasi bencana seperti banjir, longsor dan kekeringan, sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 84 tahun 2016 tentang Program Kampung Iklim dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 1679 tahun 2024 tentang Rekonseptualisasi Program Komunitas Untuk Iklim.
“Setiap individu dapat berkontribusi dalam mitigasi dengan cara mengurangi penggunaan kantong plastik, tidak membuang sampah sembarangan, membatasi penggunaan kendaraan bermotor, menggunakan sarana transportasi umum, hemat listrik dan air, serta menanam pepohonan,” jelasnya.
Adapun ProKlim Lestari sebagai penghargaan tertinggi dalam ajang ProKlim, telah diterima sejak tahun 2020 dan ibu Khofifah juga menerima penghargaan berupa pembina ProKlim sejak tahun 2018 ditingkat nasional karena dinilai aktif dalam mendukung dan mengembangkan program tersebut yang disertai berbagai kebijakan dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca guna menekan laju perubahan iklim.
“Penghargaan ini bukan tujuan utama, karena menahan laju perubahan iklim harus dilakukan semua individu, tidak cukup hanya pemerintah. Saya mengajak semua elemen khususnya relawan pecinta lingkungan untuk terus aktif,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Jawa Timur juga memperoleh 96 Sertifikat Proklim Utama dan 65 Proklim Madya, selain Jawa Timur, perolehan ProKlim Lestari tahun 2025 di urutan kedua ada Jawa Tengah 6 penerima dan Kalimantan Selatan 4 penerima.
Sementara tiga Provinsi dengan perolehan trophy ProKlim utama terbanyak 2025, selain Jawa Timur yang memperoleh 13 penerima, ada Jawa Tengah 9 penerima dan Jawa Barat 6 penerima.
Menurut laporan Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLH bahwa total penghargaan Tropi Proklim Lestari sebanyak 26 lokasi dan Jatim mendapatkan 8 atau 30,7 persen. Untuk penghargaan Tropi Proklim Utama sebanyak 50 lokasi, Jatim mendapatkan 13 atau 26 persen. Penghargaan Sertifikat Utama sebanyak 246 lokasi dan Jatim mendapatkan 96 atau 39 persen. [tok/beq]






