Magetan (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Magetan mencatat fenomena yang mengkhawatirkan pada tahun 2025, di mana total 18 calon pengantin (catin) terdeteksi positif HIV menjelang pernikahan mereka. Angka ini memunculkan kekhawatiran serius mengenai penyebaran HIV yang dipicu oleh perilaku berisiko di kalangan usia produktif.
Sub Koordinator P2PM Dinkes Magetan, Agus Yudi, menegaskan bahwa kasus yang ditemukan pada kelompok catin ini bukan lagi insiden tunggal, melainkan mulai membentuk pola yang mengindikasikan masalah serius.
“Ada 18 yang banyak calon pengantin karena free sex sebelum menikah. Sebanyak 12 di antaranya yang calon pengantin pria,” ujar Agus, pada kesempatan terpisah.
Temuan ini secara tegas menyoroti bahwa hubungan seksual sebelum menikah—khususnya dengan pasangan berganti-ganti—telah menjadi faktor dominan penularan HIV di Magetan.
Riwayat Pernikahan dan Risiko Penularan di Lingkungan Keluarga
Agus Yudi menambahkan, riwayat pernikahan juga menjadi faktor risiko yang teridentifikasi. Sebagian catin yang terdeteksi positif HIV memiliki riwayat pernikahan lebih dari satu kali.
“Faktornya catin yang positif nikah kedua ketiga dan seterusnya,” jelasnya.
Riwayat hubungan seksual sebelumnya—baik dengan mantan pasangan maupun pasangan lain—memperbesar potensi tertular HIV tanpa disadari. Kondisi ini tak jarang memukul rencana pernikahan, memunculkan konflik keluarga, bahkan konsekuensi hukum jika status kesehatan tidak dibuka sejak awal.
Pemeriksaan kesehatan pra-nikah kini menjadi benteng penting untuk mencegah penularan dalam hubungan rumah tangga. Apabila temuan pada catin sudah mencapai 18 orang dalam data terbaru, angka sebenarnya di masyarakat bisa lebih besar karena tidak semua pasangan melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Di sisi lain, Agus juga mengingatkan bahwa kelompok Lelaki Seks Lelaki (LSL) masih menjadi fenomena gunung es. Artinya, temuan 18 catin ini hanya merupakan titik kecil dari potensi penyebaran HIV yang jauh lebih besar di Magetan.
Temuan catin positif HIV adalah peringatan keras bahwa perilaku seksual berisiko dan minimnya edukasi masih menjadi persoalan besar. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal baru justru bisa berubah menjadi lingkaran penularan baru jika tidak diimbangi kesadaran untuk memeriksakan diri.
Dinkes Magetan kini meningkatkan tracing dan edukasi pada kelompok usia produktif. Edukasi seks aman, tes kesehatan pra-nikah, dan keterbukaan pasangan menjadi kunci untuk memutus rantai HIV di lingkungan keluarga. [fiq/beq]






