Malang (beritajatim.com) – Isu perubahan iklim dan ancaman bencana hidrometeorologi menjadi sorotan utama dalam gelaran Wisuda ke-72 Politeknik Negeri Malang (Polinema), Sabtu (29/11/2025).
Dalam upacara yang digelar di Graha Polinema tersebut, Direktur Polinema, Ir. Supriatna Adhisuwignjo, ST., MT., menekankan pentingnya para lulusan untuk mengambil peran strategis melalui penguasaan green skill dan green jobs.
Wisuda tahap ke-4 tahun 2025 ini terasa istimewa karena menyatukan lulusan dari kampus utama dengan mahasiswa Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) yang berasal dari Kediri, Lumajang, dan Pamekasan. Langkah ini diambil untuk mempererat ikatan alumni dan mengenalkan fasilitas kampus utama di Malang kepada orang tua wisudawan.
Supriatna menyoroti kondisi global yang tengah menghadapi berbagai krisis lingkungan yang berdampak nyata, termasuk bencana di berbagai daerah. Menurutnya, kondisi ini harus menjadi atensi institusi pendidikan sekaligus peluang bagi para lulusan baru.
“Kita perlu memberikan kesadaran bahwa ini menjadi atensi semua kampus. Di sisi lain, ada ruang dan peluang bagi lulusan untuk berkarya dan berkarir di green skill dan green jobs,” ujar Supriatna saat sesi wawancara dengan beritajatim.com.
Ia menegaskan bahwa keselarasan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan hidup adalah kunci masa depan.

“Kita memanfaatkan alam untuk kesejahteraan manusia, namun jangan sampai kesejahteraan itu menjadi bencana di kemudian hari. Maka, perlu profesi-profesi yang memiliki irisan kuat dengan kelestarian lingkungan,” tambahnya.
Untuk mendukung visi tersebut, Polinema telah mengintegrasikan isu lingkungan ke dalam kurikulum akademik. Supriatna menjelaskan bahwa mata kuliah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kini telah diperluas menjadi K3 dan Lingkungan di berbagai program studi (prodi).
Selain itu, mata kuliah terkait energi terbarukan (renewable energy) dan pengolahan limbah juga telah diajarkan, khususnya di jurusan Teknik Sipil dan Teknik Kimia.
“Harapannya, lulusan yang tertarik bisa memilih karir sesuai passion-nya. Teman-teman Teknik Listrik bisa menjadi manajer pembangkit listrik tenaga surya atau bayu (angin). Lulusan Teknik Kimia bisa masuk ke sektor biomassa, dan Teknik Sipil bisa fokus pada green building atau konstruksi ramah lingkungan,” jelas Direktur Polinema tersebut.
Selain isu lingkungan, momen Wisuda ke-72 ini juga ditandai dengan peluncuran resmi maskot Polinema yang diberi nama “Si Prima”. Maskot ini merupakan representasi dari nilai-nilai baru (value) yang diusung oleh kampus, yakni PRIMA.
Supriatna memaparkan makna filosofis di balik akronim PRIMA yang menjadi identitas baru sivitas akademika Polinema:
“Dengan maskot ini kami harap lulusan harus mampu menjadi pemecah masalah di masyarakat dan industri, mengedepankan integritas sumber daya manusia (SDM), menekankan pada tumbuh kembang potensi yang dinamis,” ujarnya.
Polinema, kata Direktur, berkomitmen dalam memberikan jasa layanan pendidikan terbaik dan terdepan. “Maskot Si Prima ini menjadi upaya kita untuk mensosialisasikan value tersebut agar tertanam semakin baik di masyarakat dan warga kampus Polinema,” tutup Supriatna. (dan/ian)






