Bondowoso (beritajatim.com) – Perusakan massal tanaman kopi di Kecamatan Ijen bukan hanya mencabik aset perusahaan. Nafkah buruh kebun yang menggantungkan hidup pada panenan kopi ikut terhempas.
Mereka—yang menanam, merawat, memupuk, hingga membersihkan gulma dari ribuan batang kopi—merasa perjuangannya disapu habis.
Data PTPN mencatat total 175.399 batang kopi di lahan 94 hektare rusak sejak 2023 hingga 2025 oleh orang tak dikenal (OTK). Perusahaan menghitung kerugian mencapai Rp 6,4 miliar di kurun waktu 2 tahun, termasuk bangunan dan kendaraan.
Nilai itu belum memasukkan potensi panen yang hilang apabila tanaman tidak ditebang.
Di lapangan, kerugian terbesar justru dirasakan para buruh.
JJ, salah satu buruh kebun, tak sanggup menahan tangis saat mengetahui tanaman yang ia rawat sejak awal ikut ditebas.
“Mau panen mereka potong-potong, kan ngenes di hati. Saya perjuangan sudah selesai, ingin panennya. Pas tahu dipotong, ya nangis semuanya,” ujarnya, Kamis (27/11/2025).
Setelah perusakan terakhir pada 17 November, para buruh sempat berhenti bekerja dua hari. Penghasilan mereka otomatis merosot.
Sistem upah mereka borongan: Rp 50 ribu per setengah hari, dibayar setiap dua minggu, dengan tambahan prestasi bila hasil kerja melebihi target.
“Baru hari ketiga kerja lagi. Kita diminta bekerja membersihkan tanaman kopi yang ditebang,” kata JJ.
Buruh lainnya, AX, mengaku kini tak berani melakukan sulam (penanaman ulang) di blok yang rusak karena adanya intimidasi dari oknum yang meminta lahan tidak lagi dikerjakan.
“Bisa tetap kerja, ya tapi kan areal terbatas. Berkurang, akhirnya pendapatan berkurang,” ungkapnya.
AX menambahkan, kini warga dan buruh terpaksa ronda malam di kebun. Mereka takut perusakan kembali terjadi.
“Biasanya kita tidur enak malam, sekarang harus jaga. Sampai kapan kami begini. Dampaknya seluruh Ijen,” ujarnya.
Rasa takut itu semakin mengental setelah beberapa kejadian kekerasan belakangan ini.
“Kapolsek saja digituin, tentara juga digitukan. Apalagi kita yang pekerja, yang tak bawa apa-apa, tak bawa senjata. Kita seperti apa,” kata AX.
Rentetan Perusakan Sejak 2023
Perusakan tanaman kopi pertama kali tercatat pada September 2023, dengan 716 tanaman rusak. Kasus terus berulang:
• Maret 2025: 1.152 pohon dirusak.
• 12 Oktober 2025: 6.661 pohon ditebang, kerugian Rp 400 juta.
• 18 Oktober 2025: 30 pohon dirusak di Afdeling Kampung Malang.
• 5 November 2025: 20.190 batang kembali ditebas. (awi/ted)






