Jember (beritajatim.com – Desa Ledokombo dikenal sebagai kawasan dengan kekayaan budaya dan dinamika sosial yang kuat, namun juga menghadapi tantangan besar. Salah satunya adalah tingginya angka migrasi yang kerap menjadi jalan keluar dari kemiskinan. Meski membantu perekonomian keluarga, migrasi memunculkan persoalan baru, terutama melemahnya pendampingan orang tua terhadap anak.
Minimnya pengawasan membuat anak-anak lebih rentan terhadap pengaruh buruk, baik dari lingkungan sekitar maupun dunia digital. Pasalnya, hampir setiap anak kini menggenggam ponsel pintar yang membuka akses tak terbatas ke internet. Tanpa pemahaman dan kontrol memadai, gawai dapat menjadi pintu masuk ke konten berbahaya, penipuan, perundungan, hingga eksploitasi.
“Dunia nyata mungkin mudah dipantau, tetapi dunia maya bekerja lebih senyap,” demikian pandangan para pendamping Tanoker Ledokombo yang selama ini bergerak dalam pendampingan komunitas dan tumbuh kembang anak.
Perkembangan teknologi kini memasuki babak baru: Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini tak lagi sekadar alat pencarian informasi, tetapi mampu mencerna perintah, memberi saran, hingga memecahkan masalah secara mandiri.
Kehadiran AI yang makin merata—bahkan istilahnya sudah akrab di semua lapisan masyarakat—membawa dua sisi: kemudahan besar sekaligus ancaman. Para ahli menegaskan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari kebocoran data, manipulasi informasi, hilangnya pekerjaan, hingga menurunnya kemampuan berpikir kritis.
Bagi masyarakat dengan tingkat literasi digital beragam seperti di Ledokombo, risiko tersebut bisa semakin terasa jika tidak diimbangi edukasi yang memadai.
Menjawab tantangan itu, Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia) bersama Tanoker Ledokombo menggelar lokakarya edukatif “Tanoker Digital Talk: Asik, Edukatif, Inspiratif” pada 22–23 November 2025.
Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar bersama bagi 125 peserta lintas usia: anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia. Mereka berasal dari berbagai komunitas, sekolah, pesantren, organisasi pemuda, kelompok lansia, hingga tokoh masyarakat.
Program disusun dalam tiga sesi besar:
Literasi Digital Anak bersama Inayah Sri Wardhani
Sarasehan Digital Pemuda bersama Dimas Fadhilah A.S (AI), Laurensius Raka Y (cek fakta), dan Rovien Aryunia (etika digital)
Kelas Bersama Lansia dengan materi etika digital, pengenalan AI, serta cara menghindari hoaks
Model pembelajaran dibuat interaktif melalui diskusi, simulasi, permainan edukatif, hingga sesi berbagi pengalaman.
Belajar Internet Positif, dari Anak hingga Kakek-Nenek
Salah satu fokus utama kegiatan adalah memahami cara menggunakan internet secara sehat: mulai dari memasang pengaturan keamanan (parental control), mengenali situs berbahaya, hingga strategi menghadapi hoaks dan manipulasi digital.
Materi disampaikan dengan bahasa sederhana sehingga bisa menjangkau seluruh kelompok umur. Peserta lansia bahkan mendapat pelatihan khusus agar mampu menavigasi gawai dan platform digital yang kini menjadi bagian kehidupan sehari-hari.
“Belajar digital tidak boleh berhenti pada generasi tertentu. Semua harus ikut, karena dunia digital menyentuh keseharian kita,” ujar para fasilitator dalam kegiatan tersebut.
Tujuan: Membangun Ekosistem Digital Aman di Ledokombo
Melalui kegiatan ini, Tanoker dan Mafindo berharap lahir kemampuan baru di masyarakat Ledokombo—kemampuan untuk bersikap lebih kritis, bijak, serta bertanggung jawab saat menggunakan teknologi digital maupun AI.
Selain meningkatkan literasi, program ini diharapkan menjadi fondasi untuk membangun ekosistem digital yang aman, sehat, dan berkelanjutan, terutama bagi anak-anak yang tumbuh di tengah perubahan pesat teknologi.
“Belajar lintas generasi adalah kunci. Orang tua, anak, dan kakek-nenek perlu memahami bahasa digital yang sama agar bisa saling melindungi,” kata penyelenggara. [Farha Ciciek]






