Fajar Andri Dwi Cahyono memutuskan ini saatnya untuk pulang setelah anak lelakinya, Alekna Patra Nusantara, lahir pada 4 Agustus 2019. Ia sudah bernazar untuk berhenti bekerja dan kembali ke kampung halamannya di Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Usia Andri 34 tahun, dan sudah sebelas tahun bekerja dari perusahaan ke perusahaan. Kariernya baik-baik saja. Bagus malah. Merintis karier dari bawah, ia pernah menjadi general manager di dua perusahaan.
Atasannya membujuknya untuk bertahan. Namun Andri tahu, ini saat yang tepat untuk menata ulang hidup dengan sesuatu yang baru. Maret 2021, pada saat pandemi Covid-19 makin gawat, ia sudah berada di Ledokombo.
Dengan luas 6,7 kilometer persegi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, Desa Ledokombo dihuni 4.542 jiwa. Mayoritas warga bekerja sebagai petani dan buruh tani, dan saat itu termasuk dalam kategori Desa Berkembang. Tak banyak potensi bisnis modern di sini.
Andri mulai berhitung. Dia tak bisa hanya bertahan hidup dari tabungan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun bekerja. Menjadi petani juga bukan spesialisasinya. Maka tak ada opsi lain kecuali berwirausaha, dan ia memiliki keterampilan yang tak semua orang punya: membuat trofi, patung, cendera mata dari bahan resin.
Ini usaha yang menjanjikan, karena belum ada perajin resin dalam skala besar di Jember dan sekitarnya. Permintaan pasar selama ini dipasok dari daerah lain seperti Blitar dan Bojonegoro, termasuk trofi lomba burung atau yang dikenal dengan gantangan manuk, yang populer di Jember.
Andri punya modal jaringan bisnis dan perkawanan yang dibentuknya selama bertahun-tahun untuk menciptakan pasar. Maka ia membangun Omah Kicau. Omah adalah kosakata bahasa Jawa untuk ‘rumah’. Sementara ‘kicau’ identik dengan burung. Ia sengaja memberi nama Omah Kicau, karena trofi buatannya diperuntukkan lomba atau kontes kicau burung.
Belakangan, Andri mengubahnya menjadi Omah Kreatip Indonesia, karena melayani pesanan di luar kontes burung berkicau. “Terjauh, ada orang Bandung yang pesan. Katanya untuk trofi kegiatan luar negeri,” katanya.
Bisnis Andri ini mendapat dukungan permodalan awal dari Badan Usaha Milik Desa Harapan Sejahtera. BUMDes ini sempat mati suri sebelum dihidupan kembali oleh Ipung Wahyudi, sahabat Andri yang terpilih menjadi Kepala Desa Ledokombo pada 2019. Selain menaungi Omah Kreatip Indonesia, BUMDes ini juga yang memfasilitasi warga yang tak punya pekerjaan untuk belajar dan ikut bekerja.
Tantangan terberat memulai Omah Kreatip adalah situasi dan kultur masyarakat. Andri mengawali usahanya pada masa pandemi. Sebagian besar usaha mikro kecil menengah (UMKM) tumbang satu demi satu atau bertahan semampunya, karena roda ekonomi praktis macet akibat pembatasan mobilitas masyarakat. Namun tidak demikian halnya dengan Omah Kreatip.
Andri lolos dari ujian pertamanya. “Sembilan puluh persen UMKM mati pada tahun pertama. Tapi kami lolos di tahun pertama, apalagi pada masa pandemi kami bisa survive. Nanyak orderan. Kami tidak menyangka garapan kami diterima pasar, dan bahkan sampai antre. Terbanyak adalah pemesanan trofi,” katanya.
Omah Kreatip Indonesia pun berjalan terus. Saat ini omzetnya paling sedikit Rp 90 juta per bulan.
Omzet ini tentu tak sebanding dengan perusahaan-perusahaan tempat Andri bekerja dulu. Namun, Omah Kreatip Indonesia menggerakkan perekonomian dan memiliki dampak sosial besar. Andri mengajak tukang kayu dan tukang kaca serta beberapa perajin lain untuk bergabung dan terlibat.
“Di desa saya ada perajin manik-manik. Kalau ada pesanan dari luar atau kunjungan dinas, kami bisa membuat trofi dengan memadukan resin dan manik-manik tadi,” kata Ipung.
Sejumlah siswa madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, dan santri pondok pesantren bekerja dan belajar kepada Andri. Keterlibatan tersebut berjalan alamiah. Lima belas pelajar dan tujuh santri biasa datang ke Omah Kreatip bergiliran saat waktu senggang usai belajar di sekolah. “Santri pondok kami libatkan untuk membuat kerajinan seperti kaligrafi,” kata Andri.
Andri juga mengajarkan cara berinvestasi, memanajemen uang, dan membuka usaha sendiri. Hasilnya, seorang anak muda tetangganya yang dulu terbiasa mencari rumput sepulang sekolah, kini sudah bisa membeli sepeda motor sendiri.
Trofi karya para siswa yang magang di Omah Kreatip dijadikan hadiah lomba dan kontes burung berkicau atau gantangan di desa itu. “Walau kualitas karya mereka tidak sangat bagus karena masih tahap belajar, tapi kami bisa membuat event mingguan. Setiap kamis ramai pedagang kecil karena ada acara gantangan burung,” kata Ipung.
Dampak sosial ini yang kemudian membuat Omah Kreatip bisa diterima, sekaligus menjawab pandangan konservatif masyarakat yang menyamakan patung dengan berhala.
Kehadiran Andri dan perkembangan Ledokombo menarik perhatian Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dari 3.178 desa seluruh Indonesia, Ledokombo dinobatkan menjadi Desa Brilian pada 8 November 2023. “Keunggulan Desa Ledokombo adalah adanya figur inspiratif dan kegiatan usaha mikro kecil menengah yang bisa menginspirasi banyak orang melakukan hal baik,” kata Kepala BRI Unit Ledokombo Achmad Tonny.
Penghargaan ini melengkapi capaian indeks pembangunan desa di Kabupaten Jember yang menempatkan Ledokombo sebagai Desa Mandiri. Ledokombo menjadi wajah percepatan pembangunan desa di Jember.
Saat ini 143 desa berstatus mandiri dan 83 desa berstatus maju. Tidak ada lagi desa berstatus berkembang. “Ini yang dimaksud progresnya signifikan,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Jember Adi Wijaya, Kamis (30/11/2023).
Ipung saat ini bekerja sama dengan BRI untuk melakukan klasterisasi usaha di desanya. Omah Kreatip adalah ikhtiar awal klasterisasi yang menghubungkan antara pemerintah melalui badan usaha milik desa, UMKM, dan perbankan. “Saya sedang menciptakan klaster UMKM yang bergerak di kuliner. Saya membangun pasar desa. Di sana nanti saya siapkan los-los. Tahapannya 80 persen. insyallah 2024 selesai,” katanya.
Sementara Andri berupaya agar Omah Kreatip tetap menjadi rumah bagi semua orang di Ledokombo. “Harapan saya ada keberlanjutan, regernasi. Tapi memang peminat pembuatan karya seperti ini jarang. Anak-anak muda melihat ruwetnya dulu. Kalau saya, keuntungan urusan belakangan. Yang penting, anak-anak muda ini punya keterampilan saat terjun ke masyarakat,” katanya. [wir]






