Malang (beritajatim.com) – Ada nuansa berbeda di Maliki Plaza, Jalan Sunan Kalijaga Nomor 46, Jumat (21/11/2025). Gedung yang dulunya menjadi denyut nadi percetakan dan penerbitan UIN Press ini kembali hidup. Bukan oleh deru mesin cetak, melainkan oleh riuh gagasan tentang nasib sebuah kota yang dikemas dalam Festival Sastra Kota Malang (FSKM) 2025.
Mengusung tema besar “Simpang Kata Simpang Kota”, festival yang akan berlangsung selama tiga hari hingga 23 November ini tidak sekadar merayakan teks. Lebih dari itu, FSKM 2025 hadir sebagai suara bagi sisi-sisi pembangunan kota yang kerap tak terbaca, tergusur, terlupakan, atau bahkan hilang ditelan ambisi urban.
Ketua Pelaksana sekaligus Koordinator Komunitas Pelangi Sastra Malang, Denny Mizhar, menegaskan bahwa pemilihan tema tahun ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, “Simpang Kata Simpang Kota” adalah upaya kritis untuk membedah kesenjangan (gap) yang terjadi dalam proses pembangunan kota.
“Di dalam pembangunan kota, pasti ada hal-hal yang tidak terbaca, atau mungkin menyimpang dari harapan. Dari situ kita berupaya membacanya kembali,” ungkap Denny di sela-sela pembukaan acara.
Denny mencontohkan kasus Hutan Kota “Lemah Tanjung” yang kini telah berubah fungsi. Ia menyoroti bagaimana sastra seperti karya Ratna yang mengangkat isu tersebut bisa menjadi arsip sosial yang merekam realitas yang hilang.
Melalui festival ini, sastra difungsikan sebagai metode reading the city (membaca kota) dengan pendekatan antropologi dan arsitektural untuk memahami hilir mudik dan pertumbuhan kota Malang.
“Sastra bisa menjadi arsip yang bisa dibaca, tentang bagaimana pertumbuhan sebuah kota. Lewat lokakarya sebelum festival, peserta kami ajak menulis puisi yang memotret persoalan real ini,” tambahnya.
Pemilihan Maliki Plaza sebagai lokasi utama juga sarat makna sejarah. Denny menyebut, tempat ini dulunya adalah kantor penerbitan UIN Press yang sudah lama tidak aktif. Transformasi fungsi dari ruang produksi buku menjadi ruang diskusi publik ini dinilai sangat relevan dengan tema urban yang diusung.
“Cukup menarik menggunakan tempat ini. Dulu ini kantor percetakan, sekarang menjadi ruang temu. Ini selaras dengan semangat kami menjadikan sastra sebagai arsip kota,” jelasnya.
Konsistensi Pelangi Sastra Malang dalam menggelar festival yang kini memasuki tahun kelima secara umum dan tahun ketiga dengan jenama FSKM mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah pusat. Kegiatan ini mendapat bantuan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia Melalui Penguatan Festival Sastra.

Zulkifli Songyanan, perwakilan Tim Penguatan Festival Sastra Kementerian Kebudayaan RI, mengungkapkan fakta menarik. Dari 18 festival sastra terpilih di seluruh Indonesia yang tergabung dalam konsorsium nasional, Festival Sastra Kota Malang adalah satu-satunya perwakilan dari Jawa Timur.
“Dari Jawa Timur cuma Malang, karena dalam amatan kami waktu itu yang terlihat paling konsisten,” ujar Zulkifli.
Ia menjelaskan bahwa Kementerian Kebudayaan, melalui Direktorat Pengembangan Budaya Digital, kini bergerak cepat memperkuat ekosistem sastra. Dukungan yang diberikan tidak hanya pendanaan, tetapi juga penguatan jaringan agar festival sastra yang selama ini bergerak organik bisa lebih berkelanjutan (sustainable).
Bagi Gen Z yang mungkin mengira festival sastra hanya berisi pembacaan teks yang kaku, FSKM 2025 mematahkan stigma tersebut. Zulkifli menekankan bahwa festival sastra modern adalah ruang pertemuan lintas sektoral.
“Sastra itu di dalamnya bisa ketemu arsitektur, seni rupa, musik, hingga seni pertunjukan. Harapannya karya sastra tidak hanya dibaca, tapi nanti bisa diangkat jadi film, teater, atau musik,” papar Zulkifli.
Hal ini terbukti dalam agenda pembukaan hari ini yang menampilkan berbagai kolaborasi epik. Mulai dari orasi Kesusastraan oleh Yusri Fajar bertajuk Narasi Kota: Sastra dan Budaya Urban, parikan jenaka Jula-Juli Malangan oleh Cak Marsam Hidayat, hingga pertunjukan tari kontemporer Taman Kota oleh Malang Dance Company dan musik eksperimental oleh Cak Bagus.
Puncak dari proses kreatif festival ini adalah peluncuran buku kumpulan puisi bertajuk “Apakah Kota Ini Kamar Tidurku?”. Buku ini merupakan hasil kurasi ketat dari lokakarya menulis puisi, membuktikan bahwa FSKM melahirkan karya nyata yang mempertanyakan kenyamanan tinggal di kota Malang. (dan/ian)






