Surabaya (beritajatim.com)-Banyak orang memiliki kebiasaan mencabut rambut, baik dari kepala, alis, maupun bagian tubuh lainnya. Kebiasaan ini sering muncul tanpa sadar, misalnya saat sedang stres, cemas, atau bahkan saat bosan. Jika tidak segera diatasi, rutinitas kecil ini bisa menimbulkan kerontokan, menipisnya rambut, bahkan masalah kulit.
Selain itu, kebiasaan ini juga bisa memengaruhi kepercayaan diri karena perubahan tampilan yang terlihat. Untuk membantu mengendalikannya, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan agar kebiasaan ini tidak semakin mengganggu keseharian.
Memahami Penyebabnya
Langkah pertama dalam mengatasi kebiasaan mencabut rambut adalah memahami apa yang memicunya. Pada beberapa orang, kebiasaan ini muncul saat sedang merasa gelisah atau menghadapi tekanan tertentu, sehingga mencabut rambut menjadi cara tak sadar untuk menenangkan diri. Ada pula yang melakukannya karena kebiasaan fisik, seperti merasa tidak nyaman dengan tekstur rambut tertentu atau ingin menghilangkan rambut yang dianggap mengganggu. Memahami pemicu-pemicu tersebut akan membantu menentukan langkah penanganan yang tepat, apakah membutuhkan pengendalian diri, manajemen stres, atau mengganti kebiasaan dengan aktivitas yang lebih sehat.
Mengganti dengan Kebiasaan Pengalih
Mengalihkan dorongan untuk mencabut rambut dapat dilakukan dengan memberikan tangan aktivitas lain. Kebiasaan sederhana seperti meremas stress ball, memainkan fidget toy, atau menggambar coretan kecil bisa membantu mengurangi keinginan untuk menyentuh rambut. Cara ini bermanfaat terutama saat kebiasaan mencabut rambut muncul di waktu yang sama setiap hari, misalnya saat menonton, belajar, atau bekerja. Dengan menyediakan alternatif aktivitas untuk tangan, otak akan perlahan terbiasa memilih tindakan lain selain mencabut rambut, sehingga kebiasaan itu dapat berkurang secara bertahap.
Mengelola Stres dan Beban Pikiran
Karena kebiasaan ini sering berhubungan dengan kondisi emosional, mengelola stres menjadi langkah yang sangat penting. Melakukan aktivitas yang menenangkan seperti meditasi, pernapasan dalam, berjalan santai, atau mendengarkan musik dapat membantu menurunkan ketegangan. Tidur yang cukup dan menjalani rutinitas yang lebih teratur juga berpengaruh besar terhadap stabilitas emosi. Ketika pikiran lebih tenang, dorongan untuk mencabut rambut biasanya ikut menurun. Mengelola stres bukan hanya bermanfaat untuk mengatasi kebiasaan ini, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Menjaga Rambut dan Kulit Tetap Sehat
Rasa tidak nyaman pada kulit kepala atau rambut sering memicu keinginan untuk mencabut rambut tertentu. Oleh karena itu, menjaga kebersihan dan kesehatan rambut bisa membantu mengurangi dorongan tersebut. Menggunakan sampo yang cocok, memberikan perawatan ringan seperti hair oil, atau merapikan rambut secara rutin dapat membantu menciptakan rasa nyaman sehingga tangan tidak sering menyentuh rambut. Jika area yang sering dicabut mulai tampak sensitif atau menipis, berikan perawatan lembut agar kulit tidak semakin iritasi dan dorongan mencabut tidak semakin kuat.
Mencari Bantuan Profesional Jika Dibutuhkan
Jika kebiasaan mencabut rambut terasa sulit dikendalikan meskipun sudah mencoba berbagai cara, tidak ada salahnya mencari bantuan profesional. Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini dapat terkait dengan kondisi psikologis seperti trichotillomania yang membutuhkan terapi khusus. Berbicara dengan psikolog atau tenaga profesional dapat memberikan strategi yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan. Mendapatkan bantuan bukanlah tanda kelemahan, tetapi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental dan fisik.
Kebiasaan mencabut rambut memang bisa membuat resah, tetapi bukan berarti tidak bisa diatasi. Dengan memahami pemicu, mengganti kebiasaan dengan aktivitas lain, mengelola stres, serta merawat rambut dengan baik, perilaku ini dapat dikurangi secara perlahan. Jika diperlukan, mendapatkan bantuan profesional adalah langkah bijak untuk memastikan kondisi tetap terkendali. Dengan usaha yang konsisten, kamu bisa kembali merasa nyaman dan percaya diri tanpa dibayangi kebiasaan ini. [Nazala Habibah Fathyadin]






