Gresik (beritajatim.com)- Petrokimia Gresik, perusahaan solusi agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, berhasil meningkatkan kapasitas produksi pupuk NPK bersubsidi melalui modifikasi Pabrik Fosfat I menjadi Pabrik Phonska V dengan teknologi Flex-Phos. Inovasi ini menjadi langkah strategis perusahaan untuk memastikan kelancaran produksi pupuk NPK subsidi nasional.
Teknologi tersebut sebelumnya dipaparkan dalam ajang Pupuk Indonesia Quality and Innovation (PIQI) 2025 di Gresik. Melalui penerapan teknologi ini, Petrokimia Gresik mengukuhkan diri sebagai kiblat teknologi pupuk majemuk di Indonesia sekaligus produsen pupuk NPK terbesar di tanah air.
“Proyek Phonska V dengan Teknologi Flex-Phos merupakan langkah strategis Petrokimia Gresik untuk memenuhi kebutuhan pupuk NPK yang terus meningkat, serta menjawab tantangan industri pupuk di masa depan,” ujar Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, Kamis (13/11/2025).
Ia menjelaskan, Pabrik Fosfat I yang sebelumnya hanya bisa digunakan untuk produksi pupuk fosfat memiliki keterbatasan dalam fleksibilitas produksi, sehingga perlu dilakukan modifikasi agar dapat beroperasi lebih optimal.
Kini, pabrik tersebut mampu memproduksi pupuk NPK Chemical Reaction tanpa meninggalkan kemampuannya menghasilkan pupuk fosfat seperti SP-36, SP-26, dan Phosgreen.
“Pabrik kami modifikasi ini dapat memproduksi NPK dengan jumlah yang lebih banyak, sehingga dapat memastikan ketersediaan pupuk nasional dengan kualitas unggul, sekaligus meningkatkan omzet serta daya saing bagi Petrokimia Gresik,” tuturnya.
Implementasi inovasi ini terbukti memberikan dampak positif bagi perusahaan. Dari sisi kualitas, pupuk NPK dan pupuk fosfat yang dihasilkan sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI).
Sementara dari aspek biaya, teknologi ini berhasil menghilangkan potensi kerugian Rp8,92 miliar setiap bulan atau Rp107,1 miliar per tahun akibat kehilangan produksi pupuk fosfat.
Sebaliknya, inovasi Flex-Phos justru memberikan keuntungan langsung sebesar Rp175,86 miliar per tahun dari hasil produksi pupuk NPK dan pupuk fosfat yang sebelumnya tidak dapat dilakukan.
Selain itu, inovasi ini menciptakan value creation sebesar Rp23,1 miliar dan memberikan penghematan biaya investasi proyek dengan skema swakelola senilai Rp28,2 miliar.
“Secara keseluruhan, Teknologi Flex-Phos tidak hanya meningkatkan efisiensi produksi dan menekan biaya operasional, tetapi juga memastikan keberlanjutan produksi pupuk di dalam negeri,” pungkas Daconi.
Sementara itu, PIQI 2025 merupakan wadah bagi Pupuk Indonesia untuk memberikan apresiasi kepada para inovator berprestasi di Pupuk Indonesia Grup.
Ajang tahunan ini juga menjadi media untuk memperkenalkan solusi inovatif BUMN pupuk tersebut kepada publik dan calon mitra strategis, sekaligus menegaskan Pupuk Indonesia sebagai perusahaan berbasis inovasi. [adv/dny]






