Bondowoso, (beritajatim.com) – Lereng Gunung Ijen kembali bergeliat. Di tengah kabut pagi dan aroma tanah basah, ratusan pekerja perkebunan bersama masyarakat berkumpul di Afdeling Kampung Malang, Rayon Kalisat Jampit dan Blawan, Selasa (11/10/2025). Mereka mengikuti Tanam Perdana Kopi Arabika Java Coffee Estate (JCE) di areal TTI seluas 293,57 hektare.
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas perkebunan, tetapi momentum penting untuk memulihkan kembali hubungan sosial dan ekonomi masyarakat pasca konflik yang sempat melanda kawasan Ijen akibat aksi perusakan tanaman kopi milik PTPN oleh orang tak dikenal.
Kini, semangat baru tumbuh: menanam harapan, memperkuat kolaborasi, dan memulihkan harmoni antara perusahaan, masyarakat, dan alam.
Dewan Penasihat Petani Ijen Berdaulat (PIB), Ustadz Zakaria Muchtar, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari perintah agama.
“Sudah menjadi kewajiban setiap insan manusia, terlebih seorang muslim, untuk menjaga kelestarian alam dan setiap tanaman yang ada di muka bumi. Ini termasuk perintah agama sebagaimana disebut dalam Surat Al-A’raf yang melarang berbuat kerusakan,” ujarnya.
Menanggapi fenomena pengrusakan tanaman kopi di kawasan Ijen, Ustadz Zakaria menyampaikan keprihatinan sekaligus ajakan untuk menyelesaikan persoalan dengan cara yang damai.
“Kami sangat menyayangkan kejadian itu. Namun segala sesuatu harus diselesaikan dengan musyawarah. Forkopimda adalah wadah silaturahmi untuk mengutarakan pendapat dan keinginan. Jangan sampai tindakan anarkis menciptakan keadaan yang tidak kondusif,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kawasan Ijen merupakan wilayah hutan, sebagian di antaranya hutan lindung, yang menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga.
“Rahmat Allah akan turun kepada mereka yang berbuat kebaikan, sebaliknya azab akan menimpa mereka yang membuat kerusakan. Ijen ini rawan bencana, maka mari kita jaga alam dan tanaman yang menjadi sumber kehidupan kita bersama,” pesannya.
Kapolsek Ijen, Iptu Suherdi, menegaskan komitmen aparat keamanan dalam menjaga kondusifitas wilayah pasca konflik.
“Kami bersama Koramil dan Kecamatan Ijen terus berkoordinasi dengan PTPN untuk meningkatkan patroli gabungan dan mengantisipasi potensi kriminalitas. Harapan kami, Ijen tetap kondusif agar masyarakat semakin maju dan sejahtera,” ujarnya.
Pendekatan persuasif, kata Suherdi, kini menjadi fokus utama aparat. “Kami tidak hanya mengamankan aset, tapi juga berupaya memulihkan hubungan sosial antara warga dan pihak perkebunan,” tambahnya.
Dari sisi perusahaan, tanam perdana kopi ini menjadi langkah strategis dalam investasi jangka panjang.
Thomas Evaluanto Nugroho, perwakilan Serikat Pekerja Perkebunan (SP-BUN) PTPN XII, menyebut bahwa kegiatan ini akan berdampak langsung pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Kami mendukung penuh langkah positif ini. Ada sekitar 3.000 pekerja yang terlibat langsung mulai dari pengelolaan tanaman, perawatan, hingga panen. Dengan investasi berkelanjutan seperti ini, roda ekonomi masyarakat akan terus berputar,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, total luas areal konsesi di wilayah Jampit mencapai 3.500 hektare dan di Blawan 4.700 hektare, dengan total sekitar 8.000 hektare lahan produksi.
Asep Sontani, SEVP Operation PTPN I Regional 5, menyampaikan bahwa kolaborasi antar-regional menjadi kunci keberhasilan dalam pengembangan kopi arabika di Ijen.
“KSO ini hasil kolaborasi antara PTPN I dan PTPN IV. Komoditas kopi menjadi prioritas utama selain karet di Jawa Timur,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya sinergi lintas lembaga agar manfaat program dapat dirasakan secara luas. “Kita harus kolaboratif dengan berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, balai penelitian pertanian, hingga masyarakat. Harapannya, hasilnya bisa dirasakan tidak hanya oleh PTPN, tapi juga seluruh stakeholder di sekitar Ijen,” tegas Asep.
Sementara itu, Ahmad Gusmar Harahap, Region Head PTPN IV Regional 3, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari rencana kerja jangka panjang perusahaan untuk memperbaiki komposisi umur tanaman kopi.
“Tanam perdana ini adalah bagian dari replanting tanaman tua yang sudah tidak produktif agar produktivitas meningkat. Harapannya, hasil produksi bisa mencapai standar yang telah ditetapkan, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kualitas kopi menjadi perhatian utama. “Kopi itu sensitif terhadap rasa. Produktivitas tinggi tanpa kualitas tidak menjanjikan di pasar. Karena itu, kami harus menjaga dua-duanya agar kopi ini memberi kontribusi nyata bagi perusahaan dan perekonomian nasional,” tutup Gusmar.
Kegiatan tanam perdana di Java Coffee Estate ini menjadi simbol pemulihan kepercayaan dan kebangkitan ekonomi di lereng Ijen. Di balik setiap bibit kopi yang ditanam, tersimpan semangat untuk tumbuh bersama dari konflik menuju kolaborasi, dari luka menuju kesejahteraan.
Di tanah yang sama, tempat amarah pernah tumbuh, kini tumbuh harapan baru: harapan yang beraroma kopi, dan berakar pada damai yang dijaga bersama. [awi/aje]






