Jombang (beritajatim.com) – Pencairan bonus pelatih untuk atlet yang berprestasi di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menimbulkan kontroversi. Ardhi Wirayuda, atlet lari jarak jauh yang selalu menyumbang medali emas untuk Jombang sejak 2019, mengungkapkan adanya dugaan ketidakadilan dalam pembagian bonus pelatih pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025.
Ardhi berhasil meraih dua medali emas pada ajang Porprov 2025, yang seharusnya diikuti dengan pemberian bonus sebesar Rp30 juta. Namun, bonus tersebut tidak diberikan kepada pelatih yang benar-benar melatih dan mempersiapkannya, melainkan kepada pelatih yang hanya terdaftar di Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Kabupaten Jombang dan hanya mendampingi di saat pertandingan.
“Saya sudah mengajukan agar bonus dibagi lima puluh persen banding lima puluh persen. Lima puluh persen untuk pelatih saya dari Bandung, Jawa Barat yang benar-benar melatih, membuat program dan mempersiapkan untuk bertanding, dan lima puluh persen untuk pelatih dari PASI Kabupaten Jombang yang terdaftar dan hanya mendampingi saat Porprov Jatim 2025,” ujar Ardhi saat diwawancarai, Selasa (11/11/2025).
Namun, permintaan tersebut ditolak, dan akhirnya bonus pelatih yang dicairkan tidak sesuai dengan harapan Ardhi. Ia merasa ada ketidaktransparanan dalam proses ini yang merugikan pelatih yang telah berkontribusi besar dalam pembinaan dan persiapannya.
Masalah bonus pelatih di cabang atletik Jombang bukanlah hal baru. Ardhi mengungkapkan, pada Porprov Jatim 2019, hal serupa juga terjadi. Pelatihnya, Edi Sunarko, yang membawa dua atlet meraih empat medali, juga sempat mendapat perlakuan serupa.
Saat itu, bonus pelatih dibagi rata tanpa kesepakatan bersama, dan setelah protes keras, bonus tersebut akhirnya dikembalikan. Namun, pelatih Edi Sunarko malah diberhentikan dari kepengurusan PASI.
Sejak itu, Edi Sunarko tidak melatih lagi untuk Jombang, membuat Ardhi berlatih tanpa pelatih pada Porprov 2022 dan 2023. Meski tanpa pelatih, Ardhi tetap meraih dua medali emas pada kedua ajang tersebut.
“Karena saya tanpa pelatih, di Porprov 2022 dan 2023 otomatis bonus pelatih itu tetap cair ke pihak pelatih PASI Kabupaten Jombang, meski pelatih dari PASI Kabupaten Jombang tidak pernah melatih saya. Mereka tenang-tenang saja karena tahu saya tetap akan berprestasi,” tambah Ardhi.
Ardhi merasa dirugikan oleh kebijakan yang diterapkan oleh pengurus PASI Kabupaten Jombang, dan berharap agar masalah ini segera diselesaikan. Ia menegaskan bahwa permasalahan ini lebih dari sekadar administrasi, tetapi tentang keadilan bagi pelatih yang telah bekerja keras.
“Saya ini korban dari kebijakan itu. Mulai dari pelatih saya dulu diberhentikan, sampai sekarang pelatih saya yang melatih dari Bandung tidak dapat keadilan mengenai haknya,” tutur Ardhi.
Ketua Harian PASI Kabupaten Jombang, Hariono, yang dikonfirmasi terkait masalah ini melalui pesan WhatsApp, menjelaskan bahwa semua bonus sudah cair. “Maaf, bonus semua sudah cair,” ujar Hariono singkat.
Sementara itu, Ketua KONI Jombang, Sumarsono, menjelaskan bahwa pemberian bonus pelatih pada Porprov didasarkan pada nama-nama pelatih yang diusulkan oleh cabor terkait, dalam hal ini PASI Jombang. Ia menegaskan bahwa pelatih dari luar daerah diperbolehkan, asalkan memenuhi kualifikasi yang diperlukan.
“Ya itu terserah atletnya. Banyak sekali atlet yang latihan di luar Jombang. Artinya boleh pelatih dari luar kota. Cuma untuk ke Porprov itu kan diusulkan oleh PASI atau masing-masing induk cabang olahraga (cabor). Kalau latihan oleh pelatih luar kota, itu boleh-boleh saja,” jelas Sumarsono.
Kedepannya, Sumarsono mengungkapkan pentingnya komunikasi yang lebih baik antara atlet, pelatih, dan pengurus cabor agar persoalan serupa tidak terjadi lagi. “Masalah ini tentunya komunikasi orangtua, komunikasi antar pelatih, komunikasi cabor dengan klub-klub itu harus ada model komunikasi yang baik. Dalam komunikasi itu juga penting,” tutupnya. [suf]






