Kemenangan Zohran Kwame Mamdani dalam Pemilihan Wali Kota Nuew York. Amerika Serikat, bukan kemenangan sosialisme, kendati pria kelahiran 18 Oktober 1991 itu adalah politisi sosialis demokrat.
“Saya kira kemenangan Zohran adalah kemenangan praktik komunikasi politik yang disiplin dan inovatif. Tidak sampai jauh soal nilai ideologis sosialisme,” kata Muhammad Iqbal, doktor ilmu komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (8/11/2025).
Menurut Iqbal, label “sosialisme dan sosialis muslim” lahir dari lawan-lawan politik Zohran. “Semacam defamasi untuk memproduksi narasi politik identitas yang diharapkan bisa menggerus elektoral Zohran,” katanya.
Narasi itu rontok, lanjut Iqbal, karena Zohran dan tim kampanyenya yang berasal dari kalangan muda bekerja disiplin penuh inovasi. “Zohran berupaya keras memahami dan menjanjikan perubahan signifikan untuk warga New York,” katanya.
Ini sesuai dengan karakter warga New York umumnya yang masih sangat pragmatis dan realistis. “Secara sosio ekonomi mereka memang menghadapi kesulitan ekonomi dan ketidakpastian jaminan kelayakan hidup akibat kebijakan Presiden Trump,” kata Iqbal.
Zohran mengusung tema pokok pertumbuhan dan inovasi. “Materinya realistis atau dikenal dengan ‘abundance agenda’. Dia mengemas kampanye secara progresif dan penuh kedisiplinan dalam substansi kampanye,” katanya.
Iqbal melihat Zohran mempraktikkan strategi attacking dan constrasting yang dikenalkan profesor komunikasi Amerika, Kathleen Hall Jamieson. “Dia dan timnya rajin mengadvokasi semua kebutuhan nyata yang mendesak dihadapi warga dan kemudian membandingkannya dengan misi kandidat lain,” katanya.
Strategi komunikasi politik Zohran ini, menurut Iqbal, juga selaras dengan penataan ulang politik yang diperkenalkan ilmuwan komunikasi Amerika John Corner dan Dick Pels. “Penataan ulang ini dilakukan untuk perubahan dan inovasi mengatasi kompleksitas masalah warga,” katanya.
Beberapa tema dibidik Zohran, terutama tema sektor perumahan, kebutuhan pengasuhan anak, dan perbaikan lapangan kerja dan ekonomi. “Ini sektor yang realistis memikat dan memenangkan hati warga New York,” kata Iqbal.
Iqbal melihat berlimpahnya agenda fundamental ini adalah bentuk nyata antitesis dan semacam perlawanan terhadap kebijakan Trump yang dinilai warga lebih sibuk mengurusi politik luar negeri dan melayani kepentingan oligarki.
Dalam isu genosida di Gaza, Palestina, Iqbal menilai, standar ganda yang ditunjukkan Trump meniimbulkan sentimen negatif karena melecehkan nalar kemanusiaan warga New York.
Zohran makin diuntungkan dengan kelakuan Andrew Coumo, kandidat lainnya, yang arogan dan manipulatif. “Dia diduga berkampanye dengan bantuan videofake AI,” kata Iqbal.
Sementara itu, kandidat lainnya, Curtis Sliwa, menurut Iqbal, dinilai pemilih muda New York cukup usang menghadapi ritme kemajuan zaman di tengah kesulitan hidup dan ketidakpastian.
“Hasilnya, menakjubkan. Kemenangan elektoral yang signifikan bagi Zohran di kalangan pemilih muda,” kata Iqbal. [wir]






