Madiun (beritajatim.com) – Di tengah ancaman musim hujan dan serangan hama gudang, Perum Bulog Sub Divre Madiun tetap percaya diri menjaga kualitas ribuan ton beras simpanannya. Tak main-main, total 63 ribu ton beras kini dirawat ketat di empat gudang yang tersebar di wilayah Madiun dan Ngawi.
Kepala Bulog Cabang Madiun, Agung Sarianto, menegaskan bahwa stok beras tersebut bukan sekadar disimpan, tapi benar-benar ‘dirawat’. Mulai dari pemeriksaan harian hingga fumigasi triwulanan dilakukan secara terukur agar mutu beras tetap prima.
“Setiap hari petugas kami memeriksa satu per satu kondisi beras di gudang. Kalau ada tanda-tanda hama, langsung ditangani,” ujar Agung, Kamis (6/11/2025).
Bulog menerapkan sistem Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT) sebagai “tameng utama” dari kerusakan akibat serangga atau jamur. Kebersihan area penyimpanan dijaga ketat—lantai disapu setiap hari, dinding rutin disemprot fungisida, hingga lingkungan sekitar dijauhkan dari sumber kotoran.
“Gudang kotor itu ibarat undangan buat hama. Karena itu kami pastikan semuanya bersih, dari dalam sampai luar,” imbuhnya.
Tak hanya itu, setiap tiga bulan seluruh gudang ditutup total selama seminggu untuk proses fumigasi menyeluruh. Tumpukan beras disungkup plastik dan diberi bahan fumigan berstandar food grade, sehingga aman untuk konsumsi setelah masa karantina selesai.
Menurut Agung, cara ini sudah menjadi rutinitas wajib Bulog di seluruh Indonesia. Tujuannya satu: menjaga beras pemerintah tetap layak hingga ke tangan masyarakat, baik untuk kebutuhan pasar stabilisasi harga (SPHP) maupun bantuan pangan.
“Beras Bulog itu tidak hanya stok. Ia bagian dari ketahanan pangan nasional. Karena itu kami rawat seperti menjaga emas putih,” pungkasnya. [rbr/suf]






